Review Film Cin(T)a dan Sebuah Kritik

Cin(T)a, sebuah film tentang cinta dan agama. Berkisah mengenai Cina, seorang mahasiswa baru keturunan etnis Cina, bersuku Batak, dan beragama Kristen, dan Annisa, seorang mahasiswa tingkat akhir, seorang artis yang sudah lama tidak muncul di layar kaca, keluarga berantakan, berkeinginan menjadi seorang sutradara, bersuku Jawa, dan beragama Islam. Persahabatan mereka berawal dari Cina yang tidak sengaja merusak maket Annisa dan memperbaikinya secara diam-diam. Cina yang blak-blakan membuat Annisa tertarik, karena selama hidupnya tidak ada yang pernah mencelanya seperti yang Cina lakukan. Mereka bersahabat tanpa memikirkan latar agama mereka, hal ini dapat dilihat ketika mereka berada di dekat sebuah masjid yang sedang diadakan pengajian dan dilantunkan Al-Qur’an Al-Baqarah: 62. Selain itu, toleransi mereka diperlihatkan pula ketika Idul Fitri dan Natal menjelang bersamaan. Puncak film ini yaitu ketika tragedi pengeboman gereja-gereja di berbagai negeri pada malam Natal.

Secara objektif, saya memandang film ini bagus. Teringat seorang dosen yang berkata bahwa film yang baik adalah film yang berbicara, bukan berbicara melalui kata-kata tetapi simbol-simbol yang membuat penontonnya berpikir. Pernyataan-pernyataan filosofis yang terkadang membuat saya mengatakan: “Benar juga, tapi…” ketika dua tokoh utama ini mendiskusikan mengenai Tuhan dan agama. Ya, mengapa dunia ini tidak diciptakan berdasarkan cinta? Mengapa Tuhan menciptakan berbeda-beda agama jika Ia hanya ingin disembah oleh satu agama? Berbeda-beda agama, berbeda-beda “nama” Tuhan, mengapa harus terjadi?

Film ini pula menampilkan beberapa pasangan yang telah hidup bahagia dengan pernikahan mereka bersama pasangan berbeda agama. Mereka mempertanyakan, yang saya tafsirkan, mengapa harus ada agama jika cinta sudah cukup membawa kedamaian di muka bumi? Sebenarnya apa guna dari agama?

Secara subjektif, film ini dangkal. Tetapi wajar, karena perspektif orang berbeda-beda berdasarkan kepercayaannya. Jelas sekali, menurut pandangan saya, bahwa pembuat film ini menuhankan cinta, atau menurut pandangan saya, nafsu. Ada tiga poin kritikan saya terhadap film ini.

Pertama, mengenai cukilan surat Al-Baqarah ayat 62.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in[1], siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 62 tersebut selalu menjadi alasan orang-orang kafir dan fasiq untuk membenarkan pendapat mereka, tanpa melihat kelanjutan dari ayat tersebut. Memang Allah berfirman demikian, namun apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu beriman kepada Allah? Di ayat-ayat selanjutnya dikatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani ini telah “lupa” dengan janji mereka pada Allah.

Orang-orang Yahudi melakukan pelanggaran terhadap Allah dengan merendahkan hari Sabat dan tidak melaksanakan perintah Allah (Al-Baqarah: 65-71). Mereka menulis kitab dengan tangan sendiri dan mengatakan bahwa itu dari Allah kemudian menjualnya (Al-Baqarah: 79), Bani Israil pun melupakan janjinya kepada Allah yaitu untuk tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada orang lain, bertutur kata baik, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Mereka pun lupa akan janji mereka bahwa mereka tidak akan saling menumpahkan darah sesama mereka dan mengusir saudaranya dari kampung halamannya (Al-Baqarah: 83-85). Mereka tidak mengindahkan perintah Allah yang disampaikan nabi-nabi mereka dan mereka malah mendustakan sebagian nabi mereka dan sebagian lainnya mereka bunuh, seperti yang mereka lakukan kepada Isa Putra Maryam (Al-Baqarah: 87). Mereka mengatakan bahwa hati mereka tertutup padahal itulah laknat Allah karena keinginan mereka sendiri (Al-BAqarah: 88). Dan ketika Kitab Allah (Al-Qur’an) turun, mereka mendustakannya (Al-Baqarah: 89) serta ketika datang Rasul Muhammad, mereka melemparkan Kitab (Taurat) seakan-akan mereka tidak tahu.

Jadi apakah Al-Baqarah: 62 masih berlaku setelah penjelasan ayat-ayat selanjutnya?

Salah jika kita hanya memegang hanya satu ayat dari Al-Qur’an tanpa melihat ayat-ayat selanjutnya. Al-Qur’an diturunkan tidak terdiri dari satuan-satuan yang terpisah, melainkan Al-Qur’an tersusun bersambung-sambung hingga kita menemukan puzzle yang diinginkan oleh Allah. Hanya manusia yang dipenuhi nafsu saja yang mencuil ayat-ayat dan menafsirkannya sesuai dengan kehendak mereka tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku.

Lalu mengapa Allah menciptakan banyak agama jika Ia hanya ingin disembah oleh satu agama dan tidak memperbolehkan pernikahan lintas agama?

Allah tidak menciptakan banyak agama karena hanya mengajarkan tauhid bagi manusia. Yahudi, Nasrani, dan Islam seharusnya memiliki akar ajaran yang sama yaitu tauhid. Injil menyempurnakan Taurat, dan Al-Qur’an menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Mengapa menjadi begitu banyak agama? Karena orang-orang Yahudi dan Nasrani begitu sombongnya hingga tidak mengakui Muhammad, Rasul Allah, yang membawa ajaran Islam sebagai penyempurna datang dari Arab yang mereka anggap sebagai orang-orang bodoh. Bani Israil terlalu sombong.

Poin kedua yaitu mengenai agama dan cinta. Dulu, Rasulullah memperbolehkan umatnya untuk menikah dengan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, yang memegang teguh tauhid. Tapi zaman sekarang mana ada Ahli Kitab, lha wong kitabnya saja sudah direvisi berkali-kali sesuai keinginan pemuka-pemuka agama mereka.

Bukan cinta, melainkan nafsu. Apakah ada cinta pada manusia semata tanpa ingin menyentuh manusia yang kita cintai? Jika ya, saya berikan standing aplause karena hal demikian merupakan keajaiban terhebat. Mahabbah atau cinta ada tiga tingkatan, yaitu 1) cinta hanya semata-mata pada Allah, ini adalah tingkatan cinta tertinggi; 2) cinta pada makhluk-Nya tanpa menafikan cinta pada Allah, ini adalah cinta yang baik; dan 3) cinta hanya pada dunia dan makhluk-Nya, ini adalah seburuk-buruknya cinta. Cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah, dan sebaik-baiknya hamba ialah mereka yang mencintai dan membenci hanya karena Allah saja.

Cintailah Allah. Jika cinta pada Allah telah tertanam kuat di hati maka untuk apa pernikahan lintas agama terjadi? Karena jika mereka, umat muslim, ber-Islam dengan baik, mereka tidak akan melakukan pernikahan lintas agama. Cinta mereka pada Allah lebih kuat dibandingkan cinta mereka pada makhluk-Nya. Dan saya mengutuk keras konsep nation state yang dianut sebagian besar umat manusia saat ini. Suku bangsa bukanlah ikatan yang paling kuat di dunia ini! Lihat saja bagaimana akhirnya terjadi permusuhan antara Indonesia dan Malaysia yang notabene sebagian besar penduduknya adalah muslim.

Ketiga, mengenai perang antar-agama yang terjadi di akhir tahun ’90-an hingga kini. Sebuah obrolan menarik dari beberapa orang yang sedang mendiskusikan tentang pengeboman gereja-gereja di berbagai daerah di Indonesia (sepertinya pembuat film ingin mengejek muslim, khususnya aktivis dakwah). Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak seberapa dibandingkan dengan umat muslim yang mati terbunuh di Palestina serta pernytaan mengenai pengeboman itu mungkin saja karena konspirasi yang didalangi (lagi-lagi kita menyalahkan) Amerika. Saya katakan “OH-MY-GOOD” untuk pembuat film ini karena ia sungguh tidak memiliki rasa kemanusiaan dan SANGAT BERAT SEBELAH. Hei, man, jika kau hanya melihat pengeboman gereja-gereja itu, apakah kau tidak melihat bagaimana umat Islam ditekan habis-habisan ketika rezim Orde Baru berkuasa? Ini dia kebodohan orang-orang Indonesia, LUPA akan sejarahnya sendiri. Tulisan ini bukan berarti saya membela para pelaku pengeboman itu. Salah, tentu saja. Dan SALAH pula jika kita mendiskreditkan penganut Islam-lah yang melakukan ini semua. Pemerintah (jika diperbolehkan berkata kasar) yang dungu, mencari kambinghitam sana-sini namun yang dicari adalah aktivis Islam. Masa mau kembali ke zaman Orde Baru yang mengincar para aktivis dakwah yang sedang melakukan kajian ke-Islam-an. Penakut benar Pemerintah, pengecut.

Bagaimana jika saya katakan bahwa wajar saja terjadi pengeboman gereja-gereja tersebut karena Kristen adalah agama minoritas di Indonesia? Karena ketika Islam menjadi agama minoritas seperti muslim Sulu di Filipina, Rohingya di Myanmar, Pattani di Thailand, Chechnya di Rusia, dan di berbagai belahan dunia manapun, ditindas bahkan diperlakukan lebih kejam lagi. Jangan lupakan, kawan, mengenai genosida yang dilakukan pada warga Bosnia Herzegovina di awal tahun ’90-an!

Egois memang jika memandang semua masalah dengan sangat subjektif. Tetapi saya adalah manusia, dan manusia memiliki kepercayaannya masing-masing yang membuat seluruh pemikiran, jalan hidup, perkataan, dan segala aspek kehidupannya berdasarkan ideologinya.

Wallahu’alam bishawab.

Al-Faqir,

Aniek Nurfitriani.

Depok, Ahad, 9 April 2010


[1] Sabi’in ialah umat sebelum Nabi Muhammad SAW yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa, dan memercayai adanya pengaruh bintang-bintang.

Iklan

4 respons untuk ‘Review Film Cin(T)a dan Sebuah Kritik

    1. Wa’alaikumsalam.
      iya salam kenal juga. alhamdulillah kalau bermanfaat. saya baru ngeblog di wordpress setelah sebelumnya di multiply.
      oiya, saya bukan “mas-mas”, tapi “mbak-mbak” 🙂
      Salam kenal juga,
      Aniek Nurfitriani

  1. salam damai…
    saya sebagai seorang nasrani yang saat ini sedang menjalani hubungan lintas agama tentu saja agak berkeberatan dengan beberapa komntar yang ada postingkan di blog anda ini…
    contohnya:
    1. Bukan cinta, melainkan nafsu. Apakah ada cinta pada manusia semata tanpa ingin menyentuh manusia yang kita cintai? Jika ya, saya berikan standing aplause karena hal demikian merupakan keajaiban terhebat.
    sebuah hal manusiawi jika manusia ingin mempunyai keturunan, bukan cuma bagi agama saya(kristen), tapi bagi agama anda sendiri, dan agama lain. itulah manusia.di sisi lain manusia pada dasarnya diciptakan untuk menciptakan manusia lain. dan cinta yang sesungguhnya tidak cuma bisa diukur dari menyentuh. tapi dari hati. dan anda tidak berhak men-judge dengan mengatakan “Apakah ada cinta pada manusia semata tanpa ingin menyentuh manusia yang kita cintai? Jika ya, saya berikan standing aplause karena hal demikian merupakan keajaiban terhebat.” saya yakin anda yang mungkiin ikut cinta seagama pasti juga ingin menyentuh pasangan anda agar mendapat keturunan.
    2.Cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah, dan sebaik-baiknya hamba ialah mereka yang mencintai dan membenci hanya karena Allah saja.
    memang benar, saya mengakui ucapan anda. tapi anda tahu karena kasih-sayang dan cinta yang mengikat mereka merupakan makhluk Tuhan yang tidak bisa disalahkan. Menyalahkan cinta sama saja kita menyalahkan penciptanya.
    3.Bagaimana jika saya katakan bahwa wajar saja terjadi pengeboman gereja-gereja tersebut karena Kristen adalah agama minoritas di Indonesia? Karena ketika Islam menjadi agama minoritas seperti muslim Sulu di Filipina, Rohingya di Myanmar, Pattani di Thailand, Chechnya di Rusia, dan di berbagai belahan dunia manapun, ditindas bahkan diperlakukan lebih kejam lagi. Jangan lupakan, kawan, mengenai genosida yang dilakukan pada warga Bosnia Herzegovina di awal tahun ’90-an!
    jika anda penganut islam yang baik dan benar saya mohon dengan sangat jangan memancing pertikaian antar agama lagi. seharusnya kesalahan di masa lalu menjadi gerbang kita untuk introspeksi diri…bahwa peperangan tidak akan membawa dampak positif apalagi bila masih tersimpan dendam diantara umat beragama akibat perlakuan nenek moyang di masa lalu.hendaknya kita memandang masa depan dan lupakan masa lalu.dan memulai semuanya dengan lebih baik,niscaya kita akan menemukan kedamaian sejati dan kerukunan antar umat beragama
    4.Cintailah Allah. Jika cinta pada Allah telah tertanam kuat di hati maka untuk apa pernikahan lintas agama terjadi? Karena jika mereka, umat muslim, ber-Islam dengan baik, mereka tidak akan melakukan pernikahan lintas agama. Cinta mereka pada Allah lebih kuat dibandingkan cinta mereka pada makhluk-Nya. Dan saya mengutuk keras konsep nation state yang dianut sebagian besar umat manusia saat ini.
    cinta adalah hal yang hakiki bagi manusia. sungguh salah jika kita menyalahkan manusia bila mereka mencintai seseorang yang memiliki keyakinan berbeda dibanding yang mereka anut.semenjak saya mengalami hubungan lintas agama, pola pandang saya berubah tentang cinta saya menjadi tau bahwa perbedaan itu indah,apalagi kita bisa membuat perbedaan itu sebagai sarana untuk saling melengkapi. bagi agama kami, terus terang saja, yang menganut hukum cinta kasih kami diajarkan untuk “mencintai sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri.”
    5.Ini dia kebodohan orang-orang Indonesia, LUPA akan sejarahnya sendiri.
    sejarah hendaknya menjadi suatu pembelajaran, dan sebagai cara untuk introspeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. apakah anda mau jika sejarah2 buruk terulang kembali,karena kita masih memiliki dendam masa lalu? apa anda mau kiamat dengan cepat datang karena perang yang tidak berkesudahan dimana2?bagaimana dengan hykum pancung yang diterapkan di arab?bukankan itu wilayah muslim?knp mereka menerapkan hukuman yang lebih kejam daripada bom itu?apakah anda tidak berpikir

    maav jika kata2 saya banyak yang menyinggung anda..tp kembali lagi, saya hanya manusia biasa da menurut saya begiilah….
    dan terjadilah padaku menerut kehendakMU TUHAN. AMIEN

    1. Salam.
      Maaf saya baru sempat membuka blog ini, dan ternyata ada komentar sepanjang ini.
      Perbedaan itu indah, saya setuju. Maka tidak ada salahnya bukan jika saya berpandangan seperti ini, karena agama yang saya anut mengajarkan saya seperti ini.
      Dalam agama kami, menikahi orang yang lain agama itu dilarang dan disamakan dengan berzina. Mengapa? Karena mereka yang bukan Islam dianggap tidak suci, karena belum bersyahadat. Memang ada aturan bahwa laki-laki boleh menikahi perempuan ahli kitab. Siapakah perempuan ahli kitab? Apakah sampai sekarang masih ada ahli kitab? Tentu saja tidak ada. Saya sarankan, silakan lihat dan baca kitab suci anda hingga selesai. Saya juga menyarankan anda membaca buku “Islam dan Sekularisme” karya Profesor Syed Naquib Al-Attas.

      Masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi untuk dijadikan pelajaran. Seperti yang anda katakan di poin ke-5: “sejarah hendaknya menjadi suatu pembelajaran, dan sebagai cara untuk introspeksi diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. apakah anda mau jika sejarah2 buruk terulang kembali,karena kita masih memiliki dendam masa lalu? apa anda mau kiamat dengan cepat datang karena perang yang tidak berkesudahan dimana2?bagaimana dengan hykum pancung yang diterapkan di arab?bukankan itu wilayah muslim?knp mereka menerapkan hukuman yang lebih kejam daripada bom itu?apakah anda tidak berpikir”
      Mari kita berhenti sejenak dan melihat hasil dari hukum yang dijalankan di Indonesia sekarang. Apakah pencuri berkurang? Tidak, bukan? Malah penjara menjadi sangat penuh. Setelah keluar dari penjara, adakah para narapidana merasa jera? Ternyata, banyak juga yang sering keluar-masuk penjara.
      Kalau anda belajar perbandingan agama, silakan baca juga kitab karya Said Hawwa yang berjudul Al-Islam. Di jilid kedua, dibahas mengenai politik, sosial, dan hukum. Atau, kita bayangkan dengan logika, jika hukum faraid dijalankan, apakah ada orang yang berani mencuri lagi?
      Tunggu, stop di sana. Jangan bandingkan dengan Arab Saudi, karena negara tersebut belum menjalankan syariat Islam dengan baik. Kalau anda ingin mengetahui bagaimana cara menjalankan syariat Islam dengan baik, ada baiknya anda membaca Al-Qur’an dan terjemahannya (kalau perlu, beserta tafsirnya. Saya sarankan, anda membuka tafsir Ibnu Katsir). Tapi dengan satu syarat, anda jangan memotong-motong ayat sesuai dengan kehendak anda, karena ayat-ayat dalam Al-Qur’an memiliki arti yang berkesinambungan. Bukan apa-apa, tapi saya merasa sakit hati jika ada orang yang seenaknya memotong ayat dan menafsirkan ulang untuk kepentingannya sendiri, seperti yang dilakukan pada film ini atau para aktivis JIL.

      Begitu saran saya.

      Satu pertanyaan yang sejak dulu menggelitik saya: “Apakah belajar studi perbandingan bisa objektif, tanpa mendiskreditkan agama yang tidak kita anut?”

      Saya juga menyarankan, jika anda ingin belajar agama Islam untuk dijadikan perbandingan, pelajarilah secara menyeluruh. Tidak hanya belajar dari para orientalis, tapi juga belajar dari sudut pandang ulama-ulama Islam.

      Terima kasih atas komentar dan saran anda. Alhamdulillah, saya tidak merasa tersinggung. Yang merasa tersinggung dan marah jika dikritik, berarti dia bukan orang yang berilmu bukan? 🙂

      Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s