Perjalanan Oila Si Semut Mungil

Suatu hari yang cerah, para semut pekerja kerajaan semut Oylaoy bekerja dengan giat. Mereka mengangkut benda-benda yang ukurannya lebih dari dua kali lipat tubuh mereka. Dalam kesibukan itu, semut Oila yang masih kecil memandang kesibukan keluarga dan kerabatnya. Ia bosan, sebenarnya. Ia tidak bisa bermain-main dengan orangtua dan kakak-kakaknya jika masa mengumpulkan makanan seperti ini. Ia belum bisa mengangkut makanan karena ia masih kecil dan belum cukup kuat untuk bekerja.

Tiba-tiba semut Oila yang mungil tersenyum. Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Ide itu adalah berjalan-jalan mengelilingi bukit milik kerajaan semut Oylaoy. Karena tidak ingin mengganggu pekerjaan keluarganya, Oila pergi begitu saja tanpa meminta izin kepada orangtua. Sebenarnya Oila tahu itu salah, tapi ia tidak suka mengganggu.

Maka berjalanlah Oila di sisi perbukitan sebelah tenggara. Udaranya sangat sejuk dan lihatlah di sana! Ada sebuah kolam yang begitu segar dan seketika membuat Oila kehausan. Berlari, semut Oila yang mungil menuju kolam segar itu.

Dan Ops! Ia hampir terjatuh ke dalam kolam yang luas itu. Oila pikir, kolam itu kecil karena begitulah yang ia lihat dari kejauhan. Tapi dibandingkan dengan lautan, kolam ini memang termasuk kecil. Oila menyeruput air dengan rakus. Ternyata ia tidak sadar jika ia telah berjalan begitu jauh. Tidak pernah sekali pun ia bermain jauh tanpa didampingi oleh siapa pun.

“Hei, kamu sedang apa?” Oila hampir tersedak mendengar teguran itu. Ia mencari-cari, dan ternyata seekor ikan mas-lah yang telah menghardiknya.

“A…aku sedang minum,” jawab Oila terbata. Ikan itu kecil, namun dibandingkan dengan tubuh semut Oila yang mungil, ikan itu termasuk ukuran raksasa dan membuat Oila ketakutan.

“Seharusnya kau izin terlebih dahulu!”

“Ma…maafkan aku, Ikan Mas.”

“Ah, sudahlah. Kita kan hidup di negeri khatulistiwa yang kaya akan air. Walaupun aku masih menyesalkan sikapmu yang tidak sopan itu.”

“Maaf.”

“Baik, baik. Lalu dari manakah asalmu?” tanya Ikan Mas sambil bersandar pada batu karang buatan di tepi kolam.

“Aku berasal dari bukit itu!” tunjuk Oila.

“Jauh sekali. Memang apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin bermain-main saja. Keluargaku sedang bekerja, dan aku belum diperbolehkan untuk bekerja. Jadi, kau tinggal di sini?”

“Ya, begitulah. Menyenangkan bukan menjadi ikan? Tidak pernah merasa kehausan dan kepanasan.”

“Betul sekali. Aku bisa berjalan-jalan ke mana pun aku mau, apakah kau bisa?” Ikan Mas menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Oila. “Membosankan sekali. Apakah kau tidak bosan?” Ikan Mas menggeleng sambil tersenyum. “Mengapa kau tersenyum?”

“Kau semut kecil yang sangat cerewet. Aku memang tidak bisa pergi ke mana pun aku suka, namun aku senang di sini. Aku senang karena inilah yang ditakdirkan Tuhan untukku, menjadi ikan yang hidup di kolam. Aku bersyukur karena hidup di kolam.” Oila terpana mendengarkan penjelasan Ikan Mas yang panjang seperti kereta api, lalu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya sambil berkata: “Aneh, aneh, aneh.”

Ikan Mas tersenyum kemudian bertanya, “Hari sudah gelap, apa kau tidak akan pulang?” Oila melemparkan pandangan heran pada Ikan Mas dan terkejut ketika ternyata benar apa yang dikatakan Ikan Mas: hari sudah gelap. Ini bahaya, karena Oila tidak akan bisa pulang. Jalanan menuju bukitnya begitu gelap, dan bulan bukan purnama. Tiba-tiba terdengar desing menyeramkan ke arah Oila.

“Apa itu? APA itu yang hampir saja membunuhku?” jerit Oila ketakutan.

“Hanya laron. Dan mereka tidak akan membunuhmu. Lihat! Mereka mencari cahaya terang!” Oila memutar kepalanya dan melihat laron-laron mengerubungi cahaya di sebuah rumah.

“Aku pikir tadi itu adalah burung yang sangat besar! Aku tahu laron, mereka menyukai cahaya. Begitu kata ibuku. Tapi aku belum pernah bertemu dengan mereka. Apakah mereka menyenangkan? Apakah mereka ramah?”

“Kau benar-benar semut kecil yang cerewet. Aku tidak tahu apakah mereka teman yang menyenangkan dan ramah. Aku belum pernah mendekati mereka. Aku khawatir mereka akan memakanmu.” Oila membulatkan bibirnya. Ia tidak terpengaruh oleh kata-kata Ikan Mas. Ia teringat cerita Ibu tentang hidup mereka yang singkat. Ia harus bertanya!

Dan berjalanlah Oila si semut mungil menuju kerumunan laron yang mengerubungi lampu minyak. Ia tidak peduli dengan teriakan peringatan Ikan Mas. Ia sungguh penasaran dengan laron-laron itu!

“Halo? Halo? Halo!” panggil Oila pada para laron. Mereka melirik Oila yang sedikit bergidik namun sangat bersemangat.

“Mau apa kau?” tanya seekor laron yang paling besar badannya. Mungkin ia ketua kelompoknya. Tubuh Oila dan para laron tidak jauh berbeda, tapi jumlah mereka membuat Oila ketakutan.

“Ak…aku ingin bert…bertanya,” kata Oila.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Ketua Laron terbang menghampiri Oila.

“Tentang hidup kalian.”

“Hidup kami?” tanya Ketua Laron sambil mengernyitkan dahi.

“Ibu…Ibuku bercerita kalau…kalau hidup kalian hanya semalam saja. Be…benarkah itu, P…Pak Laron?” Ketua Laron tersenyum bahagia. Melihat senyum Ketua Laron, Oila merasa tentram dan ikut tersenyum. Mereka ramah, Ikan Mas.

“Pertanyaan yang sangat hebat, Semut! Mengapa hidup kami hanya semalam? Hm, aku tidak tahu mengapa. Tapi, kami bersyukur karena diberikan hidup oleh-Nya.”

“Tapi apakah kau tidak merasa sia-sia? Hidup hanya semalam?”

“Itu takdir kami, laron. Itu yang telah digariskan Tuhan untuk kami, dan kami bersyukur karenanya.”

“Kau aneh sekali, Pak Laron.”

“Kau yang aneh. Mengapa malam-malam begini masih saja berkeliaran?”

“Aku takut pulang. Rumahku di bukit itu, dan jalan ke sana sangat gelap. Pasti Ayah dan Ibu mencariku. Kasihan mereka, aku pasti menyusahkan mereka padahal pasti mereka kelelahan setelah seharian bekerja.”

“Kalau begitu, mari kuantarkan! Kebetulan sekali aku masih memiliki waktu semalaman.”

Dan para laron mengantarkan Oila si semut mungil ke bukitnya. Ia masih tidak mengerti mengapa Ikan Mas bahagia hanya tinggal di kolam dan para laron bahagia hanya hidup semalam. Tapi Oila bersyukur bisa bertemu mereka, dan ia sangat merindukan kedua orangtuanya. Ia menyesal tidak berpamitan pada mereka.

Depok, 25 Oktober 2010

Terinspirasi oleh syair Ikan, Laron, dan Semut

yang dilantunkan oleh Fatih Nasyid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s