Belajar Berlogika #1

Image

I

“…kritis maksudmu seperti apa?” Firdaus mengetik pertanyaan dengan tenang. Tidak ada getar marah atau tempo napas semakin cepat atau wajah merah. Ia selalu berusaha setenang mungkin, terlebih dengan permasalahan sesensitif ini.

“Ya, kritis. Masa kamu tidak tahu maksud saya? Begini, walaupun ada sebuah kitab suci di hadapan kita yang katanya dari Tuhan, kita harus tetap bisa mengkritisinya. Ya, barangkali saja Tuhan yang menurunkan kitab suci itu bohongan. Manusia yang menyamar menjadi Tuhan. Atau barangkali, kitab suci itu sudah tidak asli lagi. Banyak yang diubah-ubah.” Jawaban Tarika muncul di layar notebook Firdaus.

“Kamu pernah mendengar tentang keaslian yang akan terus dipertahankan kitab suci ini hingga akhir zaman?”

“Bagaimana jika ayat tersebut hanya sebagai legalitas saja? Atau lebih parah lagi, ayat tersebut sebenarnya pada awalnya tidak ada. Jadi, untuk mengesahkan…”

“Ada para penghafal kitan suci, Tar.”

“Mungkin mereka sudah lupa.”

“Hafalan mereka sampai kepada Nabi mereka.”

“Itu dia, mungkin Nabi mereka yang mengotak-atik kitab sucinya.”

“Bagaimana caranya?”

“Mengubah tata bahasanya, tulisannya, semua yang berhubungan dengan kitab suci.”

“Nabi mereka buta huruf. Bagaimana mungkin bisa mengubah tulisannya?”

“Dari segi bahasa?”

“Ada cerita, kamu pasti pernah mendengarnya. Kisah ini tentang orang-orang musyrik Quraisy yang menantang untuk membuat hal yang serupa dengan kitab suci tersebut. Ketika mereka melakukannya, mereka mengaku kalah, dan menyatakan bahwa kitab suci tersebut bukan buatan manusia.”

*

II

“Okelah saya mengakui bahwa kitab suci tersebut bukan buatan manusia. Tapi sungguh, kitab suci itu sangat tidak adil! Tidak ada ayat yang menyatakan “ya ayyuhal mukminaat”, selalu saja “ya ayyuhal mukminiin”. Kenapa begitu? Itu sa-ngat bi-as gen-der, kau tahu?”

“Mari kita ke jurusan Sastra Arab. Sepertinya dosen-dosen di sana lebih mengetahui, kau tahu? Setahu saya, ketika ada laki-laki dan perempuan, pengucapan panggilan “antum” lebih tepat karena mencakup semuanya. Mungkin, menurut saya, panggilan “muslimin” dan “mukminin” merupakan perluasan makna menjadi semua orang entah laki-laki atau perempuan.”

*

III

“Tata bahasa, baiklah. Tapi Nabi mereka paedofil! Kau tahu pasti itu. Mana mungkin seorang Nabi menikah anak yang bahkan belum berumur tujuh belas tahun!”

“Nenekmu menikah umur berapa?”

“Saya tidak tahu. Ayah saya berumur lima puluh lima, Nenek tujuh puluh.”

“Berarti Nenekmu hamil ayahmu pada umur lima belas tahun. Benar ‘kan? Kemungkinan Nenekmu menikah pada umur tiga belas tahun dan saat Nenekmu menikah, itu sekiitar tahun lima puluhan. Benar begitu?”

“Iya, betul. Tapi apa hubungannya dengan semua itu?”

“Logikakan saja. Tahun berapa Nabi itu muncul?”

“Sekitar akhir tahun 500-an masehi. Orang menikah lebih muda dibandingkan pada masa kini yang umum menikah pada umur akhir 20-an atau pertengahan umur 30-an. Bisakah kondisi zaman masa kini disamakan dengan kondisi empat belas abad yang lalu?”

“Tapi tetap saja, umur Nabi itu sudah lima puluh tahun ketika menikahi Aisyah.”

“Pada masa itu, perbedaan umur laki-laki dan perempuan yang sangat jauh adalah wajar bukan?”

“Dia kan seorang Nabi. Seharusnya memberikan contoh yang baik.”

“Contoh baik dalam anggapanmu sesuai dengan kondisi zaman pada waktu itu atau tidak?”

“Okelah saya mengakui dia tidak paedofil. Lalu apa tujuannya menikahi anak di bawah umur?”

“Kau tahu ‘kan kalau anak kecil memiliki ingatan yang kuat dan mudah belajar?”

“Ya, ya.”

“Itu yang dilakukan Nabi tersebut. Menikahi anak perempuan di bawah umur untuk tinggal bersamanya, melihat kesehariannya, melihat perilaku dan perangainya, semuanya tentang Nabi. Kau tahu berapa hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah?”

“Tidak tahu.”

“Lebih dari seribu hadits.”

“Nabi tersebut…bukankah memiliki anak perempuan juga? Kenapa tidak memakai anaknya saja daripada menikahi anak perempuan lain?”

“Fatimah ketika dewasa akhirnya akan menikah juga. Nabi membutuhkan seseorang yang bisa tinggal selamanya dengannya, dari pagi hingga malam, dari bangun tidur hingga tidur kembali.”

“Baiklah. Saya mengerti. Tapi selain Aisyah, dia menikah dengan perempuan-perempuan lainnya. Lebih dari empat orang tidak seperti apa yang diperintahkan Tuhan dalam al-Quran. Coba kita hitung. Hafsah, Shafiyyah, Ummu Salamah, Maimunah, Juwairiyah, Ummu Habibah, Saudah, Zainab binti Jahsyi, Mariyah al-Qibthiyah. Untuk apa pula Nabi menikah sebegitu banyaknya?”

“Benar, benar, dan benar. Tapi kamu yakin mereka hidup bersamaan? Selain Aisyah, semua yang dinikahi Nabi adalah janda. Bahkan umur mereka pun ada yang sudah sangat tua.”

“Untuk apa menikahi perempuan yang sudah tua?”

“Kamu ingat bukan dia seorang Nabi juga seorang pemimpin negara?”

“Ya.”

“Itu tujuannya.”

“Apa? Politik? Kekuasaan?”

“Bukan. Tapi memperkuat tali persaudaraan. Dakwah Nabi dimulai dari bawah kemudian ke atas. Nabi berdakwah pada kaum kecil, para budak. Kemudian setelah kuat, terlebih ketika Nabi memenangkan perang, Nabi menikahi perempuan pemuka suku. Atau seperti Hafsah binti Umar dan Aisyah binti Abu Bakar. Tujuan Nabi menikah kedua perempuan tersebut untuk mengokohkan tali persaudaraan antara kedua sahabat terdekatnya.

Alasan Nabi menikahi anak perempuan pemuka suku bukan karena alasan seremeh-temeh kekuasaan. Untuk apa utusan Tuhan mengurusi masalah kekuasaan?”

*

IV

“Baiklah, apa lagi yang akan kamu tanyakan ehm, debatkan, Tarika?”

“Sebentar, saya pikir dulu.”

“Baik.”

“…”

“…”

“Perang. Nabi dan pengikutnya menyebarkan agama dengan perang. Lalu dia mencerai-beraikan keluarga. Bukankah tali silahturahmi itu penting? Bahkan ada hadits tentang pemutus tali silahturahmi tidak akan mencium wangi surga.”

“Aku akan menjawab pertanyaan pertamamu dengan pertanyaan lagi. Kamu yakin dengan perang mereka menyebarkan agama?’

“Iya. Perang Badar, Uhud, Khandaq, Fathul Makkah, semuanya.”

“Kita bedah tiap perang satu per satu. Perang Badar. Perang dengan siapa? Perang dengan saudara. Perang Badar merupakan perang pertama, dan termasuk pembelaan diri. Nabi memilih keluar dari Madinah daripada berperang di dalam Madinah? Mengapa? Agar penduduk Madinah aman dari serangan. Taktik Perang Badar sangat hebat, kau tahu. Nabi sebagai pemimpin pasukan, pemimpin negara, dan bisa dikatakan manusia paling sempurna. Tapi apakah Nabi pernah melakukan kesalahan? Ya. Pada saat itu, ada seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan berada di depan sumur Badar untuk menghalangi musuh dari sumber air. Itu taktik cerdas.”

“Saya tidak butuh taktik perang. Saya butuh jawaban.”

“Baiklah. Perang Badar, mengapa? Karena untuk membela diri. Apalagi? Perang Badar juga merupakan pembuktian diri bahwa umat Islam adalah umat yang kuat. Kau tahu berapa perbandingan pasukannya? Satu banding tiga, 1000 banding 313. Tapi umat Islam menang. Atas bantuan siapa? Allah.”

Lawyered. Lalu mengapa Uhud? Dan mengapa saat di Uhud, pasukan Nabi kalah?”

“Pertama, Uhud merupakan serangan balasan dari musyrik Quraisy. Nabi membela diri. Kedua, sebenarnya, dalam perang itu Nabi telah menang. Tapi karena beberapa pasukan, khususnya pasukan yang berjaga di puncak bukit Uhud turun untuk mengambil harta rampasan perang. Perang Uhud merupakan peringatan dari Allah agar kita selalu mematuhi setiap perintah Nabi-Nya.”

“Bagaimana dengan Khandaq?”

“Perang paling hebat. Musuh-musuh Nabi dari dalam dan luar Madinah bersatu. Nabi kalah jumlah. Muncul Salman Al-Farisi dengan taktik perang yang hebat. Tapi sehebat apapun taktik perang, Nabi tetap kekurangan orang. Tertahan berhari-hari, dan Allah datang lagi sebagai penolong. Angin ribut datang dan memorak-porandakan pasukan musuh.”

“Setelah perang tersebut, mengapa Nabi mengusir suku Yahudi? Bahkan dalam pengusiran itu, harta benda mereka dirampas lalu setiap kepala laki-laki dewasa dipenggal. Mengapa Nabi sekejam itu?”

“Nabi kejam? Itulah balasan bagi para pengkhianat. Orang-orang Yahudi di Madinah telah mengadakan perjanjian untuk hidup berdampingan secara damai. Lalu, tiba-tiba mereka mengkhianati Nabi bahkan berjanji akan menyerahkan kepala Nabi. Apakah balasan setimpal bagi para pengkhianat?”

“Penjara?”

“Efek jera? Malah semakin merajalela. Buktinya? Lihat saja hukum sekarang. Pencopet kelas teri masuk penjara, keluar penjara jadi pencopet kelas kakap.”

“Jadi kamu setuju dengan hukuman a la “syari’ah” yang jauh dari kata humanis?”

“Coba kamu pikirkan. Kalau ada hukum potong tangan jika mencuri, siapa yang akan mencuri?”

“Ada saja, mereka yang membutuhkan. Kita tidak tahu ‘kan siapa yang membutuhkan dan tidak?”

“Itu dia mengapa ada hukum. Seseorang tidak langsung diberi hukuman, tapi ditanyakan dulu apa motifnya. Jika ya benar dia mencuri karena kebutuhan mendesak, maka akan dipertimbangkan. Tapi pencuriannya hanya sekadar apa yang ia butuhkan. Misalnya, ia kelaparan maka ia mencuri sepotong roti. Itu wajar. Tapi ia kelaparan lalu mencuri seisi rumah, wajar? Tidak. Ketika zaman Umar bin Abdul Aziz, tidak ada orang yang mau menerima zakat atau sedekah. Mengapa? Karena semua orang membayar zakat. Bayangkan jika orang kaya di Indonesia, minimal, membayar zakat maal. Mungkin, kondisi seperti masa Umar bin Abdul Aziz akan terulang kembali.”

“Jadi menurutmu, hukum syari’ah itu baik?”

“Hukum syari’ah dibuat oleh Sang Maha Sempurna, maka hukum tersebut telah sempurna. Mengapa kita memakai hukum buatan manusia sedangkan manusia tidak pernah terlepas dari hawa nafsu dan kepentingan pribadi? Jika kita memilih hukum buatan manusia tersebut, maka bersiaplah menerima kehancuran. Begitulah menurutku.”

*

V

“Ah, saya pusing berlogika denganmu! Sepertinya kamu selalu mendapatkan jawaban. Dari mana kamu mendapatkan semua jawaban itu?” Firdaus tersenyum melihat tiga rangkai kalimat muncul di layar Yahoo! Messenger-nya.

“Pertama, saya percaya dengan hati. Kedua, saya percaya dengan hati. Ketiga, saya percaya dengan hati.”

“Jadi jawabanmu adalah percaya dengan hati? Bagaimana bisa begitu?”

“Karena hatimu adalah bagian dari dirimu yang tidak akan pernah bisa kamu bohongi. Pernahkah kamu mengelak suatu hal yang akalmu mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar tapi hatimu menyangkal akalmu?”

“Sering terjadi.”

“Begitulah yang saya rasakan. Ketika kita percayakan seluruhnya pada hati, maka hati akan membimbingmu pada jalan yang lurus. Saya pernah membaca sebuah hadits tentang hati. Hati adalah segumpal daging yang apabila ia baik, maka seluruh tubuhmu akan baik pula. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhmu. Maka, janganlah pernah kamu bohongi hatimu.”

*

Depok, 18 April 2012

Saya cinta Islam dan Allah dengan sepenuh hati 🙂

Iklan
Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s