Manusia adalah Mahasiswa Seumur Hidup

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana. Alhamdulillah. Ketika masih kuliah, saya selalu berpikir bahwa setelah saya lulus, saya tidak akan belajar lagi. Ternyata, saya salah. Lulus kuliah berarti saya membuka pintu ilmu pengetahuan yang lebih luas!

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana, masih pengangguran. Alhamdulillah. Lha kok bersyukur? Ya, karena saya bisa mempelajari ilmu yang saya sukai tanpa terganggu lagi. Hari-hari saya dipenuhi dengan menghafal dan mentadaburi Al-Qur’an, mempelajari kembali Filsafat dasar, kajian-kajian keilmuan yang jauh dari ide-ide sekularisme (bahkan mendebat ide-ide sekularisme dengan sangat baik), dan memulai kembali hobi menulis.

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana, masih pengangguran, dan menjadi mahasiswa jalanan.

Ya, saya menyebutnya mahasiswa jalanan. Siapa sih yang datang ke Lantai 8 Perpustakaan Nasional RI kalau bukan mahasiswa dan peneliti? Ya, kemarin saya ke sana hanya untuk mencari sebuah berita tentang tokoh perempuan yang agak terlupakan, Cut Nyak Din. Saya juga kembali membuka jstor.org di kampus, dan menelusuri lorong-lorong panjang Perpustakanan UI.

Berapa SKS saya? SKS saya tidak berjumlah tapi memiliki rasa, yaitu rasa menyenangkan dan bersemangat!

Ketika saya kuliah, saya berpikir bahwa manusia akan berheti belajar setelah mendapatkan jenjang pendidikan tertinggi menurut manusia tersebut. Entah itu bachelor, master, atau doctor. Mengapa demikian? Karena saya melihat kisah nyata yang tersebar di depan mata saya. Mereka yang telah bekerja adalah mereka yang berhenti mengejar ilmu karena kesibukan bekerjanya. Ya, saya tahu mereka pun belajar untuk menyempurnakan pekerjaannya dan mendapatkan promosi. Tapi hanya itu. Sedikit sekali manusia, terutama di Indonesia, yang tertarik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, entah di bidang sains, humaniora, sosial, dan sebagainya. 

Kawan, ingin kah kalian menjadi mahasiswa seumur hidup? Sebenarnya, itulah kodrat manusia. Mencari tahu apa yang tidak tahu. Menggali apa yang berada di bawah tanah. Meraih apa yang berada di atas langit. Ilmu memang bukan hanya ilmu yang saya sebutkan di atas, kehidupan pun merupakan sebuah ilmu. Tapi, apakah kamu tidak ingin mengenal Tuhanmu? Ya, kita mengenal Tuhan dengan ilmu. Karena ketika kamu menyadari begitu luasnya ilmu pengetahuan, maka kamu akan menyadari betapa kecilnya dirimu dan kamu akan berpikir bahwa pasti ada “seseorang yang sangat besar” di balik itu semua.

 

#Cinta Ilmu ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s