Manusia adalah Mahasiswa Seumur Hidup

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana. Alhamdulillah. Ketika masih kuliah, saya selalu berpikir bahwa setelah saya lulus, saya tidak akan belajar lagi. Ternyata, saya salah. Lulus kuliah berarti saya membuka pintu ilmu pengetahuan yang lebih luas!

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana, masih pengangguran. Alhamdulillah. Lha kok bersyukur? Ya, karena saya bisa mempelajari ilmu yang saya sukai tanpa terganggu lagi. Hari-hari saya dipenuhi dengan menghafal dan mentadaburi Al-Qur’an, mempelajari kembali Filsafat dasar, kajian-kajian keilmuan yang jauh dari ide-ide sekularisme (bahkan mendebat ide-ide sekularisme dengan sangat baik), dan memulai kembali hobi menulis.

Saya sudah lulus kuliah, sudah sarjana, masih pengangguran, dan menjadi mahasiswa jalanan.

Ya, saya menyebutnya mahasiswa jalanan. Siapa sih yang datang ke Lantai 8 Perpustakaan Nasional RI kalau bukan mahasiswa dan peneliti? Ya, kemarin saya ke sana hanya untuk mencari sebuah berita tentang tokoh perempuan yang agak terlupakan, Cut Nyak Din. Saya juga kembali membuka jstor.org di kampus, dan menelusuri lorong-lorong panjang Perpustakanan UI.

Berapa SKS saya? SKS saya tidak berjumlah tapi memiliki rasa, yaitu rasa menyenangkan dan bersemangat!

Ketika saya kuliah, saya berpikir bahwa manusia akan berheti belajar setelah mendapatkan jenjang pendidikan tertinggi menurut manusia tersebut. Entah itu bachelor, master, atau doctor. Mengapa demikian? Karena saya melihat kisah nyata yang tersebar di depan mata saya. Mereka yang telah bekerja adalah mereka yang berhenti mengejar ilmu karena kesibukan bekerjanya. Ya, saya tahu mereka pun belajar untuk menyempurnakan pekerjaannya dan mendapatkan promosi. Tapi hanya itu. Sedikit sekali manusia, terutama di Indonesia, yang tertarik untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, entah di bidang sains, humaniora, sosial, dan sebagainya. 

Kawan, ingin kah kalian menjadi mahasiswa seumur hidup? Sebenarnya, itulah kodrat manusia. Mencari tahu apa yang tidak tahu. Menggali apa yang berada di bawah tanah. Meraih apa yang berada di atas langit. Ilmu memang bukan hanya ilmu yang saya sebutkan di atas, kehidupan pun merupakan sebuah ilmu. Tapi, apakah kamu tidak ingin mengenal Tuhanmu? Ya, kita mengenal Tuhan dengan ilmu. Karena ketika kamu menyadari begitu luasnya ilmu pengetahuan, maka kamu akan menyadari betapa kecilnya dirimu dan kamu akan berpikir bahwa pasti ada “seseorang yang sangat besar” di balik itu semua.

 

#Cinta Ilmu ❤

Iklan

Belajar Berlogika #1

Image

I

“…kritis maksudmu seperti apa?” Firdaus mengetik pertanyaan dengan tenang. Tidak ada getar marah atau tempo napas semakin cepat atau wajah merah. Ia selalu berusaha setenang mungkin, terlebih dengan permasalahan sesensitif ini.

“Ya, kritis. Masa kamu tidak tahu maksud saya? Begini, walaupun ada sebuah kitab suci di hadapan kita yang katanya dari Tuhan, kita harus tetap bisa mengkritisinya. Ya, barangkali saja Tuhan yang menurunkan kitab suci itu bohongan. Manusia yang menyamar menjadi Tuhan. Atau barangkali, kitab suci itu sudah tidak asli lagi. Banyak yang diubah-ubah.” Jawaban Tarika muncul di layar notebook Firdaus.

“Kamu pernah mendengar tentang keaslian yang akan terus dipertahankan kitab suci ini hingga akhir zaman?”

“Bagaimana jika ayat tersebut hanya sebagai legalitas saja? Atau lebih parah lagi, ayat tersebut sebenarnya pada awalnya tidak ada. Jadi, untuk mengesahkan…”

“Ada para penghafal kitan suci, Tar.”

“Mungkin mereka sudah lupa.”

“Hafalan mereka sampai kepada Nabi mereka.”

“Itu dia, mungkin Nabi mereka yang mengotak-atik kitab sucinya.”

“Bagaimana caranya?”

“Mengubah tata bahasanya, tulisannya, semua yang berhubungan dengan kitab suci.”

“Nabi mereka buta huruf. Bagaimana mungkin bisa mengubah tulisannya?”

“Dari segi bahasa?”

“Ada cerita, kamu pasti pernah mendengarnya. Kisah ini tentang orang-orang musyrik Quraisy yang menantang untuk membuat hal yang serupa dengan kitab suci tersebut. Ketika mereka melakukannya, mereka mengaku kalah, dan menyatakan bahwa kitab suci tersebut bukan buatan manusia.”

*

II

“Okelah saya mengakui bahwa kitab suci tersebut bukan buatan manusia. Tapi sungguh, kitab suci itu sangat tidak adil! Tidak ada ayat yang menyatakan “ya ayyuhal mukminaat”, selalu saja “ya ayyuhal mukminiin”. Kenapa begitu? Itu sa-ngat bi-as gen-der, kau tahu?”

“Mari kita ke jurusan Sastra Arab. Sepertinya dosen-dosen di sana lebih mengetahui, kau tahu? Setahu saya, ketika ada laki-laki dan perempuan, pengucapan panggilan “antum” lebih tepat karena mencakup semuanya. Mungkin, menurut saya, panggilan “muslimin” dan “mukminin” merupakan perluasan makna menjadi semua orang entah laki-laki atau perempuan.”

*

III

“Tata bahasa, baiklah. Tapi Nabi mereka paedofil! Kau tahu pasti itu. Mana mungkin seorang Nabi menikah anak yang bahkan belum berumur tujuh belas tahun!”

“Nenekmu menikah umur berapa?”

“Saya tidak tahu. Ayah saya berumur lima puluh lima, Nenek tujuh puluh.”

“Berarti Nenekmu hamil ayahmu pada umur lima belas tahun. Benar ‘kan? Kemungkinan Nenekmu menikah pada umur tiga belas tahun dan saat Nenekmu menikah, itu sekiitar tahun lima puluhan. Benar begitu?”

“Iya, betul. Tapi apa hubungannya dengan semua itu?”

“Logikakan saja. Tahun berapa Nabi itu muncul?”

“Sekitar akhir tahun 500-an masehi. Orang menikah lebih muda dibandingkan pada masa kini yang umum menikah pada umur akhir 20-an atau pertengahan umur 30-an. Bisakah kondisi zaman masa kini disamakan dengan kondisi empat belas abad yang lalu?”

“Tapi tetap saja, umur Nabi itu sudah lima puluh tahun ketika menikahi Aisyah.”

“Pada masa itu, perbedaan umur laki-laki dan perempuan yang sangat jauh adalah wajar bukan?”

“Dia kan seorang Nabi. Seharusnya memberikan contoh yang baik.”

“Contoh baik dalam anggapanmu sesuai dengan kondisi zaman pada waktu itu atau tidak?”

“Okelah saya mengakui dia tidak paedofil. Lalu apa tujuannya menikahi anak di bawah umur?”

“Kau tahu ‘kan kalau anak kecil memiliki ingatan yang kuat dan mudah belajar?”

“Ya, ya.”

“Itu yang dilakukan Nabi tersebut. Menikahi anak perempuan di bawah umur untuk tinggal bersamanya, melihat kesehariannya, melihat perilaku dan perangainya, semuanya tentang Nabi. Kau tahu berapa hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah?”

“Tidak tahu.”

“Lebih dari seribu hadits.”

“Nabi tersebut…bukankah memiliki anak perempuan juga? Kenapa tidak memakai anaknya saja daripada menikahi anak perempuan lain?”

“Fatimah ketika dewasa akhirnya akan menikah juga. Nabi membutuhkan seseorang yang bisa tinggal selamanya dengannya, dari pagi hingga malam, dari bangun tidur hingga tidur kembali.”

“Baiklah. Saya mengerti. Tapi selain Aisyah, dia menikah dengan perempuan-perempuan lainnya. Lebih dari empat orang tidak seperti apa yang diperintahkan Tuhan dalam al-Quran. Coba kita hitung. Hafsah, Shafiyyah, Ummu Salamah, Maimunah, Juwairiyah, Ummu Habibah, Saudah, Zainab binti Jahsyi, Mariyah al-Qibthiyah. Untuk apa pula Nabi menikah sebegitu banyaknya?”

“Benar, benar, dan benar. Tapi kamu yakin mereka hidup bersamaan? Selain Aisyah, semua yang dinikahi Nabi adalah janda. Bahkan umur mereka pun ada yang sudah sangat tua.”

“Untuk apa menikahi perempuan yang sudah tua?”

“Kamu ingat bukan dia seorang Nabi juga seorang pemimpin negara?”

“Ya.”

“Itu tujuannya.”

“Apa? Politik? Kekuasaan?”

“Bukan. Tapi memperkuat tali persaudaraan. Dakwah Nabi dimulai dari bawah kemudian ke atas. Nabi berdakwah pada kaum kecil, para budak. Kemudian setelah kuat, terlebih ketika Nabi memenangkan perang, Nabi menikahi perempuan pemuka suku. Atau seperti Hafsah binti Umar dan Aisyah binti Abu Bakar. Tujuan Nabi menikah kedua perempuan tersebut untuk mengokohkan tali persaudaraan antara kedua sahabat terdekatnya.

Alasan Nabi menikahi anak perempuan pemuka suku bukan karena alasan seremeh-temeh kekuasaan. Untuk apa utusan Tuhan mengurusi masalah kekuasaan?”

*

IV

“Baiklah, apa lagi yang akan kamu tanyakan ehm, debatkan, Tarika?”

“Sebentar, saya pikir dulu.”

“Baik.”

“…”

“…”

“Perang. Nabi dan pengikutnya menyebarkan agama dengan perang. Lalu dia mencerai-beraikan keluarga. Bukankah tali silahturahmi itu penting? Bahkan ada hadits tentang pemutus tali silahturahmi tidak akan mencium wangi surga.”

“Aku akan menjawab pertanyaan pertamamu dengan pertanyaan lagi. Kamu yakin dengan perang mereka menyebarkan agama?’

“Iya. Perang Badar, Uhud, Khandaq, Fathul Makkah, semuanya.”

“Kita bedah tiap perang satu per satu. Perang Badar. Perang dengan siapa? Perang dengan saudara. Perang Badar merupakan perang pertama, dan termasuk pembelaan diri. Nabi memilih keluar dari Madinah daripada berperang di dalam Madinah? Mengapa? Agar penduduk Madinah aman dari serangan. Taktik Perang Badar sangat hebat, kau tahu. Nabi sebagai pemimpin pasukan, pemimpin negara, dan bisa dikatakan manusia paling sempurna. Tapi apakah Nabi pernah melakukan kesalahan? Ya. Pada saat itu, ada seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan berada di depan sumur Badar untuk menghalangi musuh dari sumber air. Itu taktik cerdas.”

“Saya tidak butuh taktik perang. Saya butuh jawaban.”

“Baiklah. Perang Badar, mengapa? Karena untuk membela diri. Apalagi? Perang Badar juga merupakan pembuktian diri bahwa umat Islam adalah umat yang kuat. Kau tahu berapa perbandingan pasukannya? Satu banding tiga, 1000 banding 313. Tapi umat Islam menang. Atas bantuan siapa? Allah.”

Lawyered. Lalu mengapa Uhud? Dan mengapa saat di Uhud, pasukan Nabi kalah?”

“Pertama, Uhud merupakan serangan balasan dari musyrik Quraisy. Nabi membela diri. Kedua, sebenarnya, dalam perang itu Nabi telah menang. Tapi karena beberapa pasukan, khususnya pasukan yang berjaga di puncak bukit Uhud turun untuk mengambil harta rampasan perang. Perang Uhud merupakan peringatan dari Allah agar kita selalu mematuhi setiap perintah Nabi-Nya.”

“Bagaimana dengan Khandaq?”

“Perang paling hebat. Musuh-musuh Nabi dari dalam dan luar Madinah bersatu. Nabi kalah jumlah. Muncul Salman Al-Farisi dengan taktik perang yang hebat. Tapi sehebat apapun taktik perang, Nabi tetap kekurangan orang. Tertahan berhari-hari, dan Allah datang lagi sebagai penolong. Angin ribut datang dan memorak-porandakan pasukan musuh.”

“Setelah perang tersebut, mengapa Nabi mengusir suku Yahudi? Bahkan dalam pengusiran itu, harta benda mereka dirampas lalu setiap kepala laki-laki dewasa dipenggal. Mengapa Nabi sekejam itu?”

“Nabi kejam? Itulah balasan bagi para pengkhianat. Orang-orang Yahudi di Madinah telah mengadakan perjanjian untuk hidup berdampingan secara damai. Lalu, tiba-tiba mereka mengkhianati Nabi bahkan berjanji akan menyerahkan kepala Nabi. Apakah balasan setimpal bagi para pengkhianat?”

“Penjara?”

“Efek jera? Malah semakin merajalela. Buktinya? Lihat saja hukum sekarang. Pencopet kelas teri masuk penjara, keluar penjara jadi pencopet kelas kakap.”

“Jadi kamu setuju dengan hukuman a la “syari’ah” yang jauh dari kata humanis?”

“Coba kamu pikirkan. Kalau ada hukum potong tangan jika mencuri, siapa yang akan mencuri?”

“Ada saja, mereka yang membutuhkan. Kita tidak tahu ‘kan siapa yang membutuhkan dan tidak?”

“Itu dia mengapa ada hukum. Seseorang tidak langsung diberi hukuman, tapi ditanyakan dulu apa motifnya. Jika ya benar dia mencuri karena kebutuhan mendesak, maka akan dipertimbangkan. Tapi pencuriannya hanya sekadar apa yang ia butuhkan. Misalnya, ia kelaparan maka ia mencuri sepotong roti. Itu wajar. Tapi ia kelaparan lalu mencuri seisi rumah, wajar? Tidak. Ketika zaman Umar bin Abdul Aziz, tidak ada orang yang mau menerima zakat atau sedekah. Mengapa? Karena semua orang membayar zakat. Bayangkan jika orang kaya di Indonesia, minimal, membayar zakat maal. Mungkin, kondisi seperti masa Umar bin Abdul Aziz akan terulang kembali.”

“Jadi menurutmu, hukum syari’ah itu baik?”

“Hukum syari’ah dibuat oleh Sang Maha Sempurna, maka hukum tersebut telah sempurna. Mengapa kita memakai hukum buatan manusia sedangkan manusia tidak pernah terlepas dari hawa nafsu dan kepentingan pribadi? Jika kita memilih hukum buatan manusia tersebut, maka bersiaplah menerima kehancuran. Begitulah menurutku.”

*

V

“Ah, saya pusing berlogika denganmu! Sepertinya kamu selalu mendapatkan jawaban. Dari mana kamu mendapatkan semua jawaban itu?” Firdaus tersenyum melihat tiga rangkai kalimat muncul di layar Yahoo! Messenger-nya.

“Pertama, saya percaya dengan hati. Kedua, saya percaya dengan hati. Ketiga, saya percaya dengan hati.”

“Jadi jawabanmu adalah percaya dengan hati? Bagaimana bisa begitu?”

“Karena hatimu adalah bagian dari dirimu yang tidak akan pernah bisa kamu bohongi. Pernahkah kamu mengelak suatu hal yang akalmu mengatakan bahwa hal tersebut tidak benar tapi hatimu menyangkal akalmu?”

“Sering terjadi.”

“Begitulah yang saya rasakan. Ketika kita percayakan seluruhnya pada hati, maka hati akan membimbingmu pada jalan yang lurus. Saya pernah membaca sebuah hadits tentang hati. Hati adalah segumpal daging yang apabila ia baik, maka seluruh tubuhmu akan baik pula. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhmu. Maka, janganlah pernah kamu bohongi hatimu.”

*

Depok, 18 April 2012

Saya cinta Islam dan Allah dengan sepenuh hati 🙂

Perjalanan Oila Si Semut Mungil

Suatu hari yang cerah, para semut pekerja kerajaan semut Oylaoy bekerja dengan giat. Mereka mengangkut benda-benda yang ukurannya lebih dari dua kali lipat tubuh mereka. Dalam kesibukan itu, semut Oila yang masih kecil memandang kesibukan keluarga dan kerabatnya. Ia bosan, sebenarnya. Ia tidak bisa bermain-main dengan orangtua dan kakak-kakaknya jika masa mengumpulkan makanan seperti ini. Ia belum bisa mengangkut makanan karena ia masih kecil dan belum cukup kuat untuk bekerja.

Tiba-tiba semut Oila yang mungil tersenyum. Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Ide itu adalah berjalan-jalan mengelilingi bukit milik kerajaan semut Oylaoy. Karena tidak ingin mengganggu pekerjaan keluarganya, Oila pergi begitu saja tanpa meminta izin kepada orangtua. Sebenarnya Oila tahu itu salah, tapi ia tidak suka mengganggu.

Maka berjalanlah Oila di sisi perbukitan sebelah tenggara. Udaranya sangat sejuk dan lihatlah di sana! Ada sebuah kolam yang begitu segar dan seketika membuat Oila kehausan. Berlari, semut Oila yang mungil menuju kolam segar itu.

Dan Ops! Ia hampir terjatuh ke dalam kolam yang luas itu. Oila pikir, kolam itu kecil karena begitulah yang ia lihat dari kejauhan. Tapi dibandingkan dengan lautan, kolam ini memang termasuk kecil. Oila menyeruput air dengan rakus. Ternyata ia tidak sadar jika ia telah berjalan begitu jauh. Tidak pernah sekali pun ia bermain jauh tanpa didampingi oleh siapa pun.

“Hei, kamu sedang apa?” Oila hampir tersedak mendengar teguran itu. Ia mencari-cari, dan ternyata seekor ikan mas-lah yang telah menghardiknya.

“A…aku sedang minum,” jawab Oila terbata. Ikan itu kecil, namun dibandingkan dengan tubuh semut Oila yang mungil, ikan itu termasuk ukuran raksasa dan membuat Oila ketakutan.

“Seharusnya kau izin terlebih dahulu!”

“Ma…maafkan aku, Ikan Mas.”

“Ah, sudahlah. Kita kan hidup di negeri khatulistiwa yang kaya akan air. Walaupun aku masih menyesalkan sikapmu yang tidak sopan itu.”

“Maaf.”

“Baik, baik. Lalu dari manakah asalmu?” tanya Ikan Mas sambil bersandar pada batu karang buatan di tepi kolam.

“Aku berasal dari bukit itu!” tunjuk Oila.

“Jauh sekali. Memang apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin bermain-main saja. Keluargaku sedang bekerja, dan aku belum diperbolehkan untuk bekerja. Jadi, kau tinggal di sini?”

“Ya, begitulah. Menyenangkan bukan menjadi ikan? Tidak pernah merasa kehausan dan kepanasan.”

“Betul sekali. Aku bisa berjalan-jalan ke mana pun aku mau, apakah kau bisa?” Ikan Mas menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Oila. “Membosankan sekali. Apakah kau tidak bosan?” Ikan Mas menggeleng sambil tersenyum. “Mengapa kau tersenyum?”

“Kau semut kecil yang sangat cerewet. Aku memang tidak bisa pergi ke mana pun aku suka, namun aku senang di sini. Aku senang karena inilah yang ditakdirkan Tuhan untukku, menjadi ikan yang hidup di kolam. Aku bersyukur karena hidup di kolam.” Oila terpana mendengarkan penjelasan Ikan Mas yang panjang seperti kereta api, lalu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya sambil berkata: “Aneh, aneh, aneh.”

Ikan Mas tersenyum kemudian bertanya, “Hari sudah gelap, apa kau tidak akan pulang?” Oila melemparkan pandangan heran pada Ikan Mas dan terkejut ketika ternyata benar apa yang dikatakan Ikan Mas: hari sudah gelap. Ini bahaya, karena Oila tidak akan bisa pulang. Jalanan menuju bukitnya begitu gelap, dan bulan bukan purnama. Tiba-tiba terdengar desing menyeramkan ke arah Oila.

“Apa itu? APA itu yang hampir saja membunuhku?” jerit Oila ketakutan.

“Hanya laron. Dan mereka tidak akan membunuhmu. Lihat! Mereka mencari cahaya terang!” Oila memutar kepalanya dan melihat laron-laron mengerubungi cahaya di sebuah rumah.

“Aku pikir tadi itu adalah burung yang sangat besar! Aku tahu laron, mereka menyukai cahaya. Begitu kata ibuku. Tapi aku belum pernah bertemu dengan mereka. Apakah mereka menyenangkan? Apakah mereka ramah?”

“Kau benar-benar semut kecil yang cerewet. Aku tidak tahu apakah mereka teman yang menyenangkan dan ramah. Aku belum pernah mendekati mereka. Aku khawatir mereka akan memakanmu.” Oila membulatkan bibirnya. Ia tidak terpengaruh oleh kata-kata Ikan Mas. Ia teringat cerita Ibu tentang hidup mereka yang singkat. Ia harus bertanya!

Dan berjalanlah Oila si semut mungil menuju kerumunan laron yang mengerubungi lampu minyak. Ia tidak peduli dengan teriakan peringatan Ikan Mas. Ia sungguh penasaran dengan laron-laron itu!

“Halo? Halo? Halo!” panggil Oila pada para laron. Mereka melirik Oila yang sedikit bergidik namun sangat bersemangat.

“Mau apa kau?” tanya seekor laron yang paling besar badannya. Mungkin ia ketua kelompoknya. Tubuh Oila dan para laron tidak jauh berbeda, tapi jumlah mereka membuat Oila ketakutan.

“Ak…aku ingin bert…bertanya,” kata Oila.

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Ketua Laron terbang menghampiri Oila.

“Tentang hidup kalian.”

“Hidup kami?” tanya Ketua Laron sambil mengernyitkan dahi.

“Ibu…Ibuku bercerita kalau…kalau hidup kalian hanya semalam saja. Be…benarkah itu, P…Pak Laron?” Ketua Laron tersenyum bahagia. Melihat senyum Ketua Laron, Oila merasa tentram dan ikut tersenyum. Mereka ramah, Ikan Mas.

“Pertanyaan yang sangat hebat, Semut! Mengapa hidup kami hanya semalam? Hm, aku tidak tahu mengapa. Tapi, kami bersyukur karena diberikan hidup oleh-Nya.”

“Tapi apakah kau tidak merasa sia-sia? Hidup hanya semalam?”

“Itu takdir kami, laron. Itu yang telah digariskan Tuhan untuk kami, dan kami bersyukur karenanya.”

“Kau aneh sekali, Pak Laron.”

“Kau yang aneh. Mengapa malam-malam begini masih saja berkeliaran?”

“Aku takut pulang. Rumahku di bukit itu, dan jalan ke sana sangat gelap. Pasti Ayah dan Ibu mencariku. Kasihan mereka, aku pasti menyusahkan mereka padahal pasti mereka kelelahan setelah seharian bekerja.”

“Kalau begitu, mari kuantarkan! Kebetulan sekali aku masih memiliki waktu semalaman.”

Dan para laron mengantarkan Oila si semut mungil ke bukitnya. Ia masih tidak mengerti mengapa Ikan Mas bahagia hanya tinggal di kolam dan para laron bahagia hanya hidup semalam. Tapi Oila bersyukur bisa bertemu mereka, dan ia sangat merindukan kedua orangtuanya. Ia menyesal tidak berpamitan pada mereka.

Depok, 25 Oktober 2010

Terinspirasi oleh syair Ikan, Laron, dan Semut

yang dilantunkan oleh Fatih Nasyid

Asas Tunggal Pancasila: Representasi Paranoia Rezim Orde Baru terhadap Pergerakan Islam (1970-1990)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dihapuskannya tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang sila Ketuhanan dalam Piagam Jakarta menyebabkan terjadinya perdebatan panjang antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. M. Natsir, wakil golongan Islam dari Masyumi, menyatakan dengan tegas bahwa Islam harus menjadi dasar negara Indonesia. Menurut Natsir:

“Manusia merupakan khalifah di Bumi, negara harus didasarkan atas ajaran dan keyakinan Islam. Keharusan untuk menegakkan negara Islam bukan saja karena ajaran Islam mengatur hubungan manusia dan Tuhannya, melainkan juga mengatur aspek-aspek kehidupan manusia lainnya seperti aspek sosial, politik, dan ekonomi. Tugas seorang muslim adalah melaksanakan perbuatan baik dan mencegah perbuatan buruk atau amru bil ma’ruf wannahyu ‘anil munkar

(Noer, 1987: 309; Haris, 1994: 151).

Supomo, salah seorang juru bicara golongan kebangsaan, menyatakan bahwa pada dasarnya ia mengakui Islam sebagai suatu sistem kehidupan manusia yang komprehensif. Tetapi karena bangsa Indonesia mempunya kekhasannya tersendiri, gagasan negara Islam sulit untuk diterima (Boland, 1985: 22). Inti dari penolakan Islam sebagai dasar negara adalah agar Indonesia yang masih ‘bayi’ tidak mengalami instabilitas. Indonesia bagian Timur, yang notabene mayoritas non-muslim, akan merasa dianaktirikan oleh Pemerintah, dan kemungkinan akan banyak terjadi gerakan separatis.

Selain dihapuskannya tujuh kata dalam Preambule UUD 1945, kekalahan kelompok Islam pada Pemilu 1955 dengan perolehan suara 45,2% yang menggambarkan realitas kekuatan umat sekaligus menghapus mitos mayoritas umat, menyebabkan kelompok Islam kembali menuntut agar naskah asli Piagam Jakarta diakui sebagai kaidah dasar negara dan peraturan perundangan. Untuk meredam perdebatan ini, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan setahun kemudian, ia memperkenalkan ideologi Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunisme) sebagai upaya untuk menyatukan ketiga ideologi dominan dalam masyarakat. Tidak lama kemudian, Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri untuk meredam kembali munculnya isu negara Islam dan menyingkirkannya dari DPRGR yang dibentuk Soekarno setelah dibubarkannya parlemen hasil Pemilu 1955.

Pembubaran Masyumi ini membuat semakin mundurnya pergerakan Islam dalam kancah politik. Ketika tumbangnya rezim Orde Lama, golongan Islam memiliki harapan besar terhadap pemerintah Orde Baru. Namun di awal pemerintahannya, Orde Baru yang didominasi pihak militer lebih memilih kelompok sosialis. Salah satu alasannya karena kelompok Islam dianggap akan menghambat modernisasi, isu sentral yang digaungkan pemerintah Orde Baru (Hassan, 1987: 9 dalam Haris, 1994:153). Bukan hanya itu, Soeharto menilai instabilitas Orde Lama adalah akibat sistem politik yang memusatkan perhatian pada pembangunan politik dan terlalu dominannya peran partai politik yang terbagi secara ideologis. Masalah yang dipersoalkan di sini adalah isu primordial-sakral yang diyakini secara fanatik oleh pendukungnya (Dhurorudin Mashad, 2008:80). Oleh karena itu, rezim Orde Baru mengarahkan sasaran penataan pada masalah kepartaian dan ideologi. Dalam mewujudkan paradigma baru ini, maka diluncurkan dua kebijakan penting:

1.      Aliansi militer-teknokrat, menjalankan fungsi security/political order (pendekatan keamanan), sementara teknokrat menjalankan pembangunan ekonomi (pendekatan kesejahteraan).

2.      Pemerintah membentuk dan membesarkan Golkar sebagai alat rivalitas dan marjinalitas partai.

(Mashad, 2008: 81)

Dengan diluncurkannya dua kebijakan ini, Orde Baru memulai langkah awal dengan depolitisasi partai Islam. Dimulai dengan penolakan rehabilitasi Masyumi dan pembersihan pimpinan eks-Masyumi dalam tubuh Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), kemudian terjadi pemfusian semua partai Islam pada tahun 1973. Depolitisasi ini mencapai puncaknya ketika tahun 1985, PPP sebagai satu-satunya partai Islam diminta untuk mengubah dasar ideologi Islam dengan Pancasila. Permintaan ini berdasarkan SU MPR 1978 mengenai Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dan UU No. 3 tahun 1985 tentang partai politik dan Golongan Karya yang menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Birokratisasi politik ini memberikan kesadaran baru bagi kelompok Islam. Dakwah di kancah politik praktis tidak lagi menjadi agenda utama, dan sebagai gantinya, kelompok Islam mulai bergumul di bidang pendidikan, sosial, dan budaya.

Tidak lama setelah dikeluarkannya UU No. 3 tahun 1985, Orde Baru kembali mengeluarkan kebijakan mengenai Pancasila sebagai asas tunggal untuk organisasi-organisasi kemasyarakatan melalui UU No. 8 tahun 1985. Organisasi masyarakat diberi waktu dua tahun untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Ormas-ormas Islam bereaksi keras terhadap kebijakan ini. Presiden Soeharto berhasil menenangkan keadaan dengan pidatonya yang berisi tentang Pancasila bukan agama dan tidak akan diagamakan. Tapi dalam prakteknya, rezim Orde Baru bersikap keras terhadap kelompok dan individu yang terang-terangan menolak Pancasila sebagai asas tunggal. Hal ini dapat dibuktikan dengan terjadinya Tragedi Tanjung Priok 1984 dan Gerakan Usroh di Lampung serta penculikan para aktivis, khususnya aktivis dakwah, yang dianggap bertindak subversif dan menggoyang ketahanan negara. NU, yang ingin mengakhiri konflik ini, menjadi pencetus ormas Islam berasaskan Pancasila. Setelah NU, kemudian satu per satu ormas-ormas lainnya melakukan hal yang sama dan diakhiri oleh Muhammadiyah pada tahun 1986.

Selain peraturan partai politik dan keormasan, Pemerintah Orde Baru pun memasuki kampus dengan dikeluarkannya SK No.28 tahun 1974 oleh Menteri P dan K yang membatasi kegiatan-kegiatan Dewan Mahasiswa menyusul aksi dan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dalam mengoreksi kebijakan pemerintah. Lima tahun kemudian, Menteri P dan K mengeluarkan peraturan mengenai NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) yang membatasi eksistensi Gerakan Mahasiswa. Dikeluarkannya kebijakan ini melahirkan format baru gerakan mahasiswa yang pada awalnya marak dengan aksi dan demonstrasi, menjadi aktivitas kelompok-kelompok diskusi. Gerakan Dakwah Kampus, sebagai embrio bagi Gerakan Tarbiyah, pun lahir dari kegiatan-kegiatan diskusi ini.

Mengenai pergerakan Islam di Indonesia pada masa Orde Baru, khususnya Gerakan Tarbiyah, penting untuk dibahas. Karena belum ada tulisan tentang sejarah Gerakan Tarbiyah yang menyeluruh. Penulis sering mendapati sejarah Gerakan Tarbiyah ditulis hanya sepintas lalu, seperti hanya sebagai gambaran awal bagaimana sebuah peristiwa, organisasi, atau partai lahir.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, penulis merumuskan masalah sebagai berikut.

1.      Bagaimana awal perkembangan Gerakan Dakwah Kampus (GDK) yang menjadi embrio bagi Gerakan Tarbiyah?

2.      Siapa tokoh pencetus lahirnya GDK?

3.      Bagaimana sikap Pemerintah terhadap GDK?

4.      Bagaimana resistensi GDK dan para aktivisnya terhadap sikap Pemerintah?

1.3 Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk menelusuri dan merekonstruksi ulang pergerakan dakwah kampus hingga gerakan ini meluas di seluruh kampus di Nusantara dan kemudian, pada perkembangannya, menamakan diri sebagai Gerakan Tarbiyah atau Gerakan Pendidikan Islam.

1.4 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif agar mendapatkan gambaran yang utuh, menyeluruh, dan mendalam. Mengenai pengumpulan sumber, penulis menggunakan sumber sekunder dengan melakukan studi literatur dari buku-buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis, dan diskusi dengan beberapa aktivis gerakan ini. Buku-buku, skripsi, dan tesis, penulis dapatkan dari Perpustakaan Pusat UI, Perpustakaan FIB UI, dan sebagian buku merupakan koleksi pribadi. Sedangkan jurnal dan artikel, penulis dapatkan dari jurnal langganan UI, yaitu www.jstor.org dan media internet lainnya.

1.5 Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari empat bab yang saling berkaitan satu sama lain. Bab I membahas sekilas mengenai sikap kelompok Islam mengenai Piagam Jakarta pada masa Orde Lama. Dalam subbab ini pula, dijelaskan mengenai kebijakan-kebijakan Orde Baru yang sifatnya menekan kelompok ekstrim kanan, terutama kelompok Islam. Landasan teori pada bab II membahas mengenai apa itu Gerakan Islam Transnasional dan pengaruhnya di Indonesia. Sedangkan bab III berisi uraian serta pembahasan dari lahirnya GDK sampai sikap represif pemerintah Orde Baru. Dan bab IV berisi kesimpulan dari makalah ini.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Gerakan Islam Transnasional

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, gerakan adalah pergerakan, usaha, atau kegiatan dalam lapangan sosial, seperti politik, pendidikan, dan sebagainya. Sedangkan kata transnasional merupakan kata serapan asing yang berarti menembus atau melintas wilayah nasional atau negara. Jadi, Gerakan Islam Transnasional adalah pergerakan Islam yang tidak lagi berada dalam ruang lingkup negara, dalam hal ini Indonesia, namun telah bersifat internasional. Dapat disimpulkan bahwa gerakan ini tidak lagi bertumpu pada konsep negara-bangsa, namun melebihi itu, konsep umat. Gerakan ini didominasi oleh pemikiran fundamentalis-radikal dan secara parsial mengadaptasi gagasan dan instrumen modern.

Imdadun (2003) menyebut gerakan keagamaan ini sebagai gerakan revivalisme atau kebangkitan Islam di Timur Tengah pada tahun 1970-an, bertepatan dengan abad baru hijriyah yaitu abad ke-15. Karena momentum ini terkait dengan kepercayaan umat Islam bahwa setiap abad baru akan melahirkan seorang pembaru (mujaddid) terhadap keyakinan umat dan perbaikan kondisi umat Islam, maka muncul gerakan-gerakan Islam yang berpartisipasi dalam bidang sosial-politik (Rahmat, 2008: 64). Penyebaran gerakan-gerakan Islam ini begitu pesat, melewati batas negara.

Sedangkan van Bruinessen (1992) menyebut kelompok ini dengan gerakan sempalan di Indonesia. Gerakan sempalan yaitu gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Ortodoksi yang berlaku di sini adalah badan-badan ulama yang berwibawa, seperti MUI, Majelis Tarjih Muhammadiyah, dan Syuriah NU. Gerakan ini dikatakan gerakan sempalan karena poin kedua, yaitu memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Namun, dalam masalah akidah dan ibadah, gerakan ini tidak mendapatkan kritik (van Bruinessen, 1992: 18). Syamsuddin (2001) mengklasifikasikan tiga arus besar golongan Islam, yaitu arus formalistik, substantivistik, dan fundamentalis. Oleh Syamsuddin, gerakan ini dimasukkan ke dalam golongan ketiga karena cenderung mengangkat kembali sendi-sendi Islam ke dalam realitas politis sekarang dan berkeyakinan bahwa dua arus mainstream lainnya tidak berhasil menunjukkan Islam sebagai keseimbangan-tandingan dalam merespon sistem politik Indonesia. Golongan ini juga lebih menekankan pada revolusi sebagai pembenaran atas optimisme masa depan (M. Din Syamsuddin, 2001: 163).

Istilah ideologi transnasional sendiri dipopulerkan pertama kali oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Muzadi pada pertengahan tahun 2007 (Dja’far, 2009). Dan BIN mengklasifikasikan Gerakan Islam Transnasional ke dalam 6 golongan, yaitu Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jihadi, Salafi Dakwah dan Salafi Sururi, Jamaah Tabligh, dan Syiah. Berbeda dengan BIN, Dja’far (2009) mengelompokkan Gerakan Islam Transnasional ke dalam 3 kelompok, yaitu gerakan Wahabi yang dikembangkan oleh Abdul Wahab untuk kembali ada as-salaf ash-shalih[1], Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir. Sedangkan Penulis mengelompokkan Gerakan Islam Transnasional ke dalam 4 kelompok, yaitu Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, dan Salafi. Pengelompokkan ini atas pertimbangan jumlah kader yang terus meningkat di Indonesia saat ini.

2.2 Gerakan-gerakan Islam yang Bersifat Transnasional

2.2.1 Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi pergerakan Islam kontemporer terbesar di dunia. Ikhwan telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, lebih 70 negara di Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Kanada. Didirikan  oleh Syaikh Hasan Al-Banna (1324-1386 H/1906-19449 M) pada bulan April 1928 di Mesir. Tujuan gerakan ini adalah melakukan dakwah Islam yang benar, menyatukan umat Islam, menjaga kekayaan negara untuk menyejahterakan rakyat, meningkatkan keadilan sosial, dan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Ikhwan menganut prinsip keterbukaan dan inklusivitas, memiliki nama-nama berbeda di setiap negara tapi disatukan oleh pemikiran dan metodologi dakwah. Metode dakwah Ikhwan yang utama adalah pembentukan kelompok-kelompok kajian (halaqoh).

Sepeninggal Syaikh Hasan Al-Banna, Ikhwan ditekan oleh pemerintah Gamal Abdul Nasser dan menjadi organisasi terlarang. Ikhwan bergerak di bawah tanah hingga wafatnya Presiden Nasser pada 28 Februari 1970. Pada masa Presiden Anwar Sadat, Ikhwan memeroleh pembebasan dalam beberapa tahap. Pemikiran pergerakan Ikhwan dipengaruhi oleh beberapa aliran keagamaan, tapi dalam banyak hal, Ikhwan merupakan kelanjutan dari aliran Ibnu Taimiyah yang berafiliasi ke mazhab Ahmad bin Hambal (Imdadun, 2003: 57). Pemikiran Ikhwan dibangun berdasarkan premis awal bahwa Islam merupakan agama yang syumul atau meliputi seluruh aspek kehidupan. Ajaran tidak hanya mengenai aspek ibadah ritual dan urusan-urusan privat, melainkan termasuk aspek ilmu pengetahuan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Maka dari itu, sekulerisme merupakan musuh ideologi Ikhwan.

Gerakan Ikhwan sekarang terbagi menjadi dua arus besar, yaitu Ikhwan Tarbiyah dan Ikhwan Jihadi. Ikhwan Tarbiyah merupakan versi resmi yang tidak terlalu radikal namun tujuan utamanya tetap, yaitu mendirikan Daulah Islamiyah. Jalur yang ditempuh bukan melalui jalur kekerasan, melainkan melalui dakwah parlemen. Dakwah parlemen adalah metode dakwah yang dilakukan Gerakan Tarbiyah dewasa ini. Mereka memang tidak mengakui demokrasi, tapi mereka beranggapan bahwa dengan memasuki ranah politik mereka dapat merubah politik Indonesia secara bertahap. Model Ikhwan inilah yang diterima secara luas di beberapa negara, termasuk Indonesia (“Gerakan Islam Transnasional dan Pengaruhnya di Indonesia”,  n.d).

2.2.2 Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir merupakan sebuah partai politik Islam yang didirikan oleh Taqiyuddin An-Nabhany di Al-quds, Palestina pada tahun 1952. Pergerakan HT memiliki agenda yang sama dengan Ikhwan, yaitu menegakkan syariat Islam dalam kehidupan dan menegakkan Daulah Islam. Tapi, perbedaan sangat mendasar dari kedua pergerakan ini adalah penerimaannya terhadap demokrasi. Ikhwan lebih memilih jalan moderat, yaitu memasuki sistem politik negara di mana gerakan ini berada, cara ini disebut dakwah parlemen. Sedangkan HT, dengan terang-terangan, menolak keras demokrasi dan segala bentuk hukum buatan manusia.

Partai ini melakukan pendidikan dan pembinaan umat dengan wawasan Islam, melancarkan pertarungan pemikiran, dan ativitas politik. Dalam rangka menjalankan agenda politiknya, HT menempatkan diri sebagai kekuatan oposisi yang menentang para penguasa yang tidak menerapkan sistem politik Islam dan hukum-hukum Islam. Gerakan paling menonjol yang dilakukan HT adalah mengampanyekan penolakan terhadap sistem politik dari Barat. Mereka menolak konsepsi nasionalisme, demokrasi, sosialisme, sekularisme, kedaulatan rakyat, monarki, dan segala sistem selain sistem Islam.

Sejak berdirinya, partai ini selalu bergerak di bawah tanah dikarenakan selalu menjadi partai yang dimusuhi oleh pihak penguasa. Hal ini disebabkan agenda-agenda perjuangannya bertentangan dengan ideologi negara dan kemapanan politik para penguasa di negara-negara partai ini berada. Walau pergerakannya “timbul-tenggelam”, namun esksistensinya tetap bertahan hingga sekarang, bahkan semakin berkembang luas (Imdadun, 2003).

2.2.3 Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh merupakan gerakan dakwah Islam non-politik dengan tujuan kembali pada ajaran Islam yang kaffah. Tujuan utama gerakan ini adalah membangkitkan jiwa spritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Gerakan ini didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, India. Sebenarnya, nama Jamaah Tabligh hanya sebutan saja bagi gerakan ini. JT, resminya, bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslima yang menjalankan agamanya, dan gerakan ini hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya (Chandra, 2009 paragraf 1).

Pada tahun 1946, penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. JT berkembang sangat pesat, karena ketika berada di sebuah negara, gerakan ini langsung dapat membaur dengan masyarakat lokal. Sifat dakwahnya berpindah-pindah tempat dari masjid ke masjid. Setiap sebulan sekali, mereka melakukan khuruj. Khuruj adalah meluangkan waktu untuk secara total berdakwah dan orang yang melakukan khuruj dilarang meninggalkan masjid tanpa seizin Amir (Chandra, 2009 ch.3).

2.2.4 Salafi

Gerakan Salafi merupakan gerakan non-politik, seperti Jamaah Tabligh dan memiliki tujuan yang sama dengan gerakan Islam kontemporer lainnya: memurnikan ajaran Islam sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Gerakan ini merupakan perpanjangan tangan dari paham Wahabi yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787). Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada As-Salaf yang bermakna orang-orang terdahulu (Ikhsan, 2006 paragraf 3). Sedangkan secara terminologis, orang-orang terdahulu ini adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah SAW dalam hadistnya:

“Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka berdasarkan hadits ini, yang dimaksud dengan As-Salaf adalah para sahabat Nabi Muhammad SAM, para tabi’in, kemudian atba’ at-tabi’in. Dari penjelasan ini, maka seorang salafi berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan atba’ al-tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.

2.3 Penyebaran dan Pengaruh Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (Era Orde Baru)

Gerakan Islam Transnasional ditengarai memasuki Indonesia sebelum revolusi kemerdekaan. Hal ini dilihat dari ide-ide pemurnian Islam yang berkembang di Indonesia pada awal abad ke-20. Ide pemurnian Islam ini dipengaruhi oleh gerakan PAN-Islamisme yang berkembang di Timur Tengah dengan tokohnya Muhammad Abduh. Sumber-sumber sejarah menyatakan bahwa Agus Salim dan M. Natsir pun aktif dalam konferensi-konferensi Islam tingkat Internasional. Bahkan dalam beberapa diskusi, ada beberapa kelompok yang percaya mengenai adanya campur tangan Ikhwanul Muslimin dalam proses revolusi kemerdekaan Indonesia.

Proses masuknya gerakan ini melalui tiga jalur penting, yaitu alumni mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Timur Tengah, hubungan mahasiswa Indonesia dengan organisasi Islam internasional, dan para veteran perang Afghanistan. Sedangkan penyebarannya melalui gerakan usroh di kampus, forum-forum studi Islam, kitab-kitab terjemahan, dan perkenalan dengan ulama-ulama di tempat asal gerakan. Pada era 1970-an, dibandingkan dengan gerakan lain, Ikhwanul Muslimin mengalami peningkatan kader yang signifikan. Walaupun demikian, seperti di negara asalnya, Ikhwanul Muslimin di Indonesia bergerak secara sembunyi-sembunyi bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali.[2]

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Asas Tunggal Pancasila sebagai Sumber Konflik

Orde Lama jatuh, dan berkuasalah Orde Baru. Bagi golonganIslam, berkuasanya Orde Baru adalah harapan baru bagi mereka setelah penekanan yang dilakukan oleh Soekarno. Tapi, di awal pemerintahannya, Soeharto ternyata menunjukkan sikap antipatinya terhadap golongan Islam dan mulai merangkul golongan sosialis. Pemerintah Orde Baru menjuluki PKI sebagai “ekstrim kiri” dan Islam mendapatkan julukan “ekstrim kanan”. Berbagai sumber menyatakan, sikap Soeharto ini merupakan perwujudan dari paranoia terhadap ancaman kekuatan Islam terhadap kekuasaannya.

Puncak dari sikap represif Orde Baru dinyatakan dalam SU MPR 1978 mengenai Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) dan UU No. 3 tahun 1985 tentang partai politik dan Golongan Karya yang menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setelah pengaturan mengenai partai politik dan Golkar tersebut, Pemerintah Orde Baru kemudian mengeluarkan UU No. 8 tahun 1985 mengenai pengaturan Pancasila sebagai anggaran dasar organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Kebijakan Pemerintah tersebut mendatangkan polemik di berbagai ormas Islam karena Presiden soeharto menawarkan tiga konsep penerapan Pancasila, yaitu: 1) Pribadi Pancasila; 2) Masyarakat Pancasila; dan 3) Negara Pancasila. Menurut Soeharto, Pancasila bukan saja hanya dimiliki namun diresapi dalam kehidupan sehari-hari (Syukur, 2003: 33). Namun pada akhirnya, ormas-ormas Islam ini memilih untuk berdamai dengan Pemerintah dan menjadikan Pancasila sebagai anggaran dasar ormas-ormas tersebut.

Berbanding terbalik dengan ormas-ormas Islam tersebut, para aktivis dakwah kampus menolak keras Pancasila. Mereka memiliki konsep alternatif lain, yaitu konsep Islam mengenai Pribadi, Keluarga, Masyarakat, Negara, dan Khilafah Islamiyah. Menurut mereka, menerima Pancasila berarti melakukan tindakan syirik. Selain itu, konsep nasionalisme menurut mereka sama dengan paham ashobiyah (kesukuan) dalam bentuk baru.

Setelah depolitisasi Islam dan NKK/BKK, golongan Islam memutuskan untuk berdakwah di bidang selain politik, yaitu sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Maka pada periode 1970-1990, bermunculan para cendekiawan muslim (Tebba, 1993). Hal ini terjadi pula pada para aktivis dakwah. Mereka memilih cara bergerak secara sembunyi-sembunyi karena pada periode itu, penangkapan para aktivis dakwah Islam begitu marak.

3.2 Gerakan Tarbiyah

Gerakan Tarbiyah lahir di Indonesia terinspirasi oleh berbagai pemikiran Ikhwanul Muslimin. Proses perkenalan para aktivis Tarbiyah di Indonesia dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin melalui dua cara. Pertama, perkenalan terjadi melalui ‘Imaduddin Abdulrahim yang terlibat dalam jaringan dakwah Islam internasional serta aktivitas di Angkatan Belia Islam di Malaysia hingga membuka kesempatan padanya berkenalan dengan pemikiran gerakan Timur Tengah tersebut (Imdadun, 2003: 99). Kedua, perkenalan melalui alumni lembaga pendidikan di Timur Tengah. Para alumnus ini berinteraksi langsung dengan para aktivis Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah dan menyebarkannya ke Indonesia.

Pada awalnya, gerakan ini belum dinamakan “Tarbiyah” dan masih berupa jaringan usroh. Dalam beberapa sumber, dikarenakan berupa jaringan usroh maka gerakan ini disebut Gerakan Usroh (Imdadun, 2003; Abdul Syukur; 2003; Rahmat: 2008). Usroh adalah sebuah kelompok pengajian kecil yang berjumlah 6-12 orang dengan keanggotaan bersifat homogen, baik dari segi latar belakang pendidikan, jenis kelamin, maupun usia. Sesama anggota usroh diharuskan untuk melakukan kegiatan ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan tafakul (saling membantu) (Syukur, 2003: 38). Jadi, di antara anggota usroh tidak hanya mengenal identitas pribadi, melainkan memahami secara mendalam latar belakang sosial, ekonomi, politik, dan pendidikannya. Dapat dikatakan, usroh seperti keluarga, karena suka dan duka salah satu anggota merupakan suka dan duka anggota lainnya. Pembentukan usroh bertujuan untuk membangun pribadi para kader dakwah untuk mencapai lima konsep Ikhwanul Muslimin, yaitu Pribadi, Keluarga, Masyarakat, Negara, dan Khilafah Islamiyah.

3.2.1 Masjid Kampus: Pusat Kajian Keislaman

Masjid kampus pertama di Indonesia adalah Masjid Salman ITB dengan proses pendirian memakan waktu lama. Ini dikarenakan pelarangan yang dilakukan rektor ITB. Ia berpikiran bahwa jika mahasiswa Islam ingin mendirikan masjid, nanti mahasiswa lainnya akan menuntut untuk mendirikan tempat ibadah pula. Kemudian pada tahun 1972, bangunan fisik masjid Salman selesai dibangun dan digunakan salat Jumat pada tahun yang sama. Pada perkembangan selanjutnya, masjid Salman tidak hanya digunakan sebagai tempat salat saja, melainkan dijadikan sebagai pusat kegiatan keislaman yang meliputi program baitul mal, pengembangan sarana informasi keislaman, dokumentasi, dan perpustakaan, program pembinaan, pelayanan jamaah, pengkajian keislaman, serta kegiatan sosial-masyarakat. Sedangkan yang dengan sasaran mahasiswa, masjid ini dikembangkan menjadi tempat penempaan para aktivis dakwah (Muhammad Imdadun, 2003: 100). Kemudian ‘Imaduddin Abdulrahim, salah satu pencetus didirikannya masjid Salman, menjadikan masjid Salman sebagai basis LMD (Latihan Mujahid Dakwah) pada tahun 1971.

Ketika kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) diterapkan, mahasiswa kesulitan untuk mengaktualisasikan dirinya, terutama dalam kegiatan politik praktis dengan cara mengoreksi kebijakan pemerintah. Kebijakan ini tetap memperbolehkan kehidupan kampus berpolitik, akan tetapi lingkup politik hanya terfokus dalam kampus dan berupa diskusi atau wacana serta tokoh-tokoh nasional tidak diperbolehkan untuk berpolitik di kampus (Whayudha, 2009). Akibatnya, banyak mahasiswa yang melakukan kegiatan di bawah tanah. Mereka yang bergerak di bawah tanah ini salah satunya adalah mahasiswa yang melakukan pembinaan keagamaan, terutama tentang moralitas dan pemahaman agama Islam seperti pemahaman Ikhwanul Muslimin mengenai Islam. Metode yang dilakukan berbeda dari kebiasaan, seperti bedah buku, seminar keagamaan, dan mempelajari gerakan Islam di dunia.

Kegiatan ini, selain mahasiswa ITB, dilakukan pula oleh mahasiswa UI di masjid Arief Rahman Hakim (ARH) yang terletak di kampus UI Salemba. Penggunaan masjid sebagai pusat kajian Islam melalui berbagai pertimbangan, salah satunya adalah karena masjid adalah media yang tidak bersentuhan secara langsung dengan politik kampus.

3.2.2 Kaderisasi Gerakan

Kegiatan keagamaan yang dilakukan Gerakan Dakwah Kampus mulanya pada tahun 1980-1984 merupakan kegiatan yang bersifat tidak resmi. Prioritas Aktivis Dakwah Kampus (ADK) pada periode tersebut adalah mendapatkan mahasiswa muslim yang memahami Islam dan dakwah secara menyeluruh (syumul) dan integral (syamil), belum sampai pada gerakan yang bersifat kelembagaan. ITB rupanya telah terlebih dahulu melakukan kegiatan keagamaan bernama Latihan Mujahid Dakwah atau LMD yang diprakarsai oleh ‘Imaduddin Abdulrahim pada tahun 1971 sepulang dari Malaysia. Kabar mengenai pelatihan ini kemudian menyebar hingga ke beberapa kampus di Indonesia, seperti UI, IPB, dan UGM. Kemudian, para ADK mengirimkan perwakilan untuk mengikuti kegiatan tersebut.

LMD merupakan suatu model latihan dakwah yang dilakukan dengan cara pembentukan kelompok-kelompok kecil dan dibimbing oleh seorang mentor untuk membicarakan segala kehidupan dari cara pandang Islam. Metode yang digunakan oleh LMD dinamakan Nilai-nilai Dasar Islam (NDI) (Whayudha, 2009: 30). LMD ketiga diadakan pada tahun 1974 dan terbuka bagi para mahasiswa ITB yang berminat. Sebelum kegiatan berlangsung, peserta diseleksi terlebih dahulu melalui proses wawancara yang dilaksanakan sendiri oleh ‘Imaduddin. Peserta juga diwajibkan mengikuti psikotes. LMD ketiga ini diadakan selama lima hari lima malam di Kompleks Masjid Salman ITB dan segala kebutuhan, termasuk konsumsi, dijamin oleh Masjid Salman ITB.

“Setiap peserta LMD diwajibkan menghapal sejumlah ayat Al-Quran dan harus sudah tuntas pada malam baiat. Oleh karena itu, setiap waktu luang selalu kami gunakan untuk membaca dan menghapal ayat-ayat yang diwajibkan tersebut. Kegiatan LMD setiap hari dimulai satu jam sebelum salat subuh dan kegiatan salat malam dilakukan sensiri-sendiri. Kegiatan harian berakhir sekitar pukul 22.00. Bang ‘Imad selalu menekankan bahwa dalam setiap kegiatan peserta harus dalam keadaan segar dan bisa menggunakan pikirannya secara kritis dan cerdas…Bang ‘Imad selalu mengatakan bahwa LMD bukanlah indoktrinasi. Karenanya, para peserta harus mengkritisi setiap materi yang disampaikan pembimbing.” (Jimly Asshiddiqie, dkk., 2002: 217).

LMD cukup diminati oleh mahasiswa karena disampaikan secara informal dan menarik. Respon positif ini didorong pula oleh keadaan kampus yang dibatasi oleh NKK/BKK. Pesertanya yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus di Indonesia menjadikan LMD mulai tersebar di kampus-kampus tersebut atas prakarsa alumni LMD sebelumnya. Bentuk kegiatan LMD pun diadopsi oleh berbagai kampus, seperti UI, UGM, IPB, dan sebagainya.

3.2.3 Perkembangan Awal Dakwah Kampus

Akibat dari keikutsertaan para mahasiswa berbagai kampus dalam kegiatan LMD adalah semakin menyebarnya pemikiran Ikhwanul Muslimin. Kemudian pada tahun 1983-1984, Gerakan Dakwah Kampus mulai muncul ke ranah publik (ammah). Para aktivis dakwah kampus melakukan pembentukan kelompok-kelompok kecil (usroh, mentoring, atau halaqoh) sebagai bentuk dakwah personal atau dakwah fardhiyah. Dakwah personal ini merupakan senjata utama para ADK dalam berdakwah, karena mereka berusaha untuk tetap hati-hati walaupun Pemerintah Orde Baru sudah mulai terbuka bagi pergerakan Islam pada tahun 1984. Gerakan Dakwah Kampus pun pada awalnya merupakan gerakan tidak tampak dan dikenal dengan istilah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) (Whayudha, 2009: 32). Bahkan pihak kampus pun tidak mengetahui ada kelompok mahasiswa yang melakukan pengajian-pengajian.

Kemunculan Gerakan Dakwah Kampus berasal dari bawah ke atas, bukan atas ke bawah. Maka ketika para kadernya semakin bertambah, muncul lah para tokoh dan lembaga dakwah kampus seperti pada masa kini.

Aktivitas Gerakan Dakwah Kampus mulai tertata pada tahun 1984, instrumen dakwahnya bukan hanya melalui masjid, melainkan melalui prestasi akademis. Pada tahun yang sama, aktivitas dakwah kampus mulai merambah ke wilayah eksternal kampus.

3.3 Tokoh Gerakan Tarbiyah

3.3.1 Muhammad ‘Imaduddin Abdulrahim

Muhammad ‘Imaduddin Abdulrahim, atau biasa dipanggil Bang ‘Imad, dilahirkan pada tanggal 21 April 1931 di Langkat, Sumatera Barat. Ia lahir di sebuah kota yang dikenal sebagai kota dengan tradisi keulamaan dan keislaman yang kuat. Keluarganya merupakan keluarga terpandang dan terdidik, khususnya dalam bidang keagamaan. Sejarah kehidupan pergerakan Islam tokoh pencetus LMD ini cukup panjang. Dididik oleh seorang ayah yang ulama dan sejak remaja telah masuk Hizbullah.

Pada tahun 1953, ‘Imaduddin menjadi mahasiswa ITB dan langsung ikut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tahun berikutnya, ‘Imaduddin diangkat sebagai ketua penerimaan calon anggota baru HMI. ‘Imaduddin juga pernah menjadi Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Mahasiswa Islam (LDMI) HMI. Ketika panitia pendirian masjid Salman dibentuk oleh Profesor Tubagus Sulaiman pada tahun 1958, ‘Imaduddin begitu gigih memperjuangkan kepada rektor ITB.Selain itu, ia pun aktif dalam berbagai organisasi internasional seperti WAMY, Angkatan Belia Islam Malaysia, dan IIFSO. Pesentuhannya dengan jaringan Islam internasional menjadi jalur perkenalannya dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin.

Sosok ‘Imaduddin terkenal sebagai pribadi yang tegas dan keras. Ia tidak takut oleh tindakan represif Pemerintah Orde Baru. Bahkan ketika diperingatkan oleh pengurus masjid Al-Azhar agar tidak terlalu ‘keras” saat ceramah karena ada intel Soeharto, Bang ‘Imad tidak peduli. Ia telah mendapatkan cap “bermasalah” dan “patut dicurigai” oleh Pemerintah Soeharto. Setelah peristiwa Al-Azhar, ‘Imaduddin memberikan ceramah di UGM. Saat itu, ia mengatakan bahwa orang yang mendirikan kuburan sebelum mati adalah Fir’aun padahal ketika itu Soeharto sudah membangun kuburannya di Istana Giri Bangun. Tidak lama kemudian, ‘Imaduddin ditangkap oleh intel. Walaupun ditangkap, ‘Imaduddin sama sekali tidak menampakkan ketakutan. Karena ia merasa, ia hanya menyampai ayat-ayat Al-Quran, tidak lebih.

3.3.2 Rahmat Abdullah

Syaih Tarbiyah, begitulah julukan bagi Rahmat Abdullah karena perannya yang begitu besar dalam perkembangan dakwah Gerakan Tarbiyah. Ia lahir di kawasan Kuningan, Jakasrta Selatan, pada tanggal 3 Juli 1953. Sebagai orang Betawi, ia lebih bangga jika tanah kelahirannya disebut Jayakarta. Hal ini dikarenakan nama tersebut merupakan nama yang diberikan oleh Pangeran Fatahillah, sedangkan Betawi berasal kata Batavia pemberian penjajah Belanda.

Ketika remaja, Rahmat Abdullah adalah seorang yang tekun mempelajari Islam, mulai dari membaca Al-Quran, baca-tulis Arab, kajian akidah, akhlak, dan fikih. Pada tahun 1960-an, Rahmat termasuk aktivis demonstran anggota KAPPI dan KAMI atau lebih dikenal dengan aktivis angkatan ’66. Saat itu beliau masih duduk di bangku SMP.

Oleh karena kurangnya perhatian sekolah terhadap masalah agama, Rahmat pindah sekolah ke Ma’Hadi Asy-Syafi’iyah di Matraman, Jakarta. Di Ma’had ini, diketahui kecerdasan Rahmat yang ‘meloncat’ dari kelas tiga ke kelas lima MI.

Pada tahun 1980-an, Rahmat sempat akan diberangkatkan ke Kairo bersama empat rekannya dikarenakan demonstrasi yang mereka lakukan. Namun, kesempatan itu gagal karena adanya fitnah di kalangan internal. Tokoh-tokoh yang ia kagumi adalah Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, dan beberapa tokoh nasional, seperti HOS Tjokroaminoto dan Muhammad Natsir. Ia pun sempat berdiskusi dan berguru dengan tokoh nasional, seperti Muhammad Natsir, Mohammad Roem, dan Syafrudin Prawiranegara.

Rahmat Abdullah bersama Hilmi Aminudin, dan beberapa tokoh pemudal Islam pada masa itu bergabung dalam Harakah Islamiyah atau Pergerakan Islam yang terinspirasi dari pergerakan Ikhwanul Muslimin. Kemudian, ia bertemu dengan rekan-rekannya yang memiliki ide dan pemikiran sama. Bersama mereka, ia berjuang melalui bidang pendidikan Islam, kaderisasi, dan pengajian hingga menghasilkan kader yang bertambah terus-menerus. Dalam wadah dakwah ini, Rahmat juga merintis sebuah majalah bernama Sabili yang diminati oleh sebagian besar pemuda Islam. Namun sayang, Pemerintah Orde Baru melarang penyebaran majalah ini. Ternyata Rahmat dan kawan-kawannya pantang menyerah, mereka terus menyebarkan Sabili di bawah tanah.

3.4 Sikap Represif Pemerintah Terhadap Gerakan Islam

3.4.1 Kasus Jilbab

Kasus jilbab adalah kasus mengenai pelarangan jilbab yang terjadi sepanjang tahun 1980-an. Pelarangan ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) pada tanggal 17 Maret 1982 mengenai peraturan bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah  negeri. SK ini bersifat nasional dan diatur langsung oleh Departemen P dan K (Alatas, 2007).

Awal kemunculan jilbab dimulai ketika diadakan pelatihan-pelatihan seperti LMD di ITB dan kajian-kajian keislaman. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pencetus LMD dipengaruhi oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin mengenai penerapan Islam dalam segala aspek kehidupan. Maka dari itu, pemakaian jilbab menjadi hal yang paling ditekankan karena jilbab adalah  pakaian wajib bagi setiap muslimah yang telah baligh, seperti dalam Q.S. Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31.

Tapi pemahaman para siswi dan mahasiswi berbeda dengan pemahaman Pemerintah yang notabene anti-Islam. Alatas (2007) mencatat kasus paling awal yang terekam dari keseluruhan kasus pelarangan jilbab di sekolah-sekolah negeri terjadi pada tahun 1979. Para siswi berjilbab adalah siswi Sekolah Pendidikan guru (SPG) Negeri Bandung. Kemudian tahun 1980, terjadi pelarangan jilbab di SMAN 3 Bandung dan SMAN 4 Bandung.

Sepanjang periode 1979-1991, kurang lebih ada 39 kasus pelarangan jilbab yang di berbagai kota, seperti Bandung, Bekasi, Jakarta, dan Surabaya. Penyelesaian kasus ini pun bermacam-macam, dari berakhir damai, skorsing, ditekan oleh pihak sekolah, sampai berakhir ke pengadilan. Walau demikian, sebagian besar kasus berakhir damai.

Pada tahun 1991, pemakaian jilbab di beberapa kota besar sudah tidak dilarang lagi. Hal ini disebabkan beberapa hal, salah satunya sikap politik Pemerintah Orde Baru yang mulai mendekati kelompok Islam. Akan tetapi, jilbab sampai tahun 2000-an masih menjadi masalah di berbagai tempat.

3.4.2 Penangkapan Para Aktivis Dakwah

Berbagai sumber telah menjelaskan bahwa sikap Soeharto yang antipati terhadap gerakan Islam adalah kesadarannya terhadap ancaman kekuatan Islam yang akan menggoyang kekuasaannya. Wahdah Islamiyah (2009) menyatakan bahwa setelah terjadi konflik antara Pemerintah dan golongan Islam, dalam hal ini Daulah Islamiyah atau DI, Pemerintah memulai berbagai rekayasa untuk menghancurkan kekuatan umat Islam. Salah satu tokoh yang terkenal pada masa itu adalah Benny Moerdani, seorang intel Pemerintah yang melakukan berbagai konspirasi untuk menangkap para aktivis Islam.

‘Imaduddin Abdulrahim, seorang pencetus LMD dan da’i yang memiliki pemikiran tegas dan keras ditangkap pada tanggal 23 Mei 1978 karena ceramah-ceramahnya yang bersifat subversif. Namun karena tuduhannya tidak jelas, ia kemudian dibebaskan.

Ismail Sunny, seorang pengurus ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) yang berdiri pada tahun 1990 . Ditangkap dua kali oleh Pemerintah. Pertama kali ditangkap pada tahun 1978 setelah menyampaikan kesaksian terhadap masalah inkonstitusional di Indonesia pada akhir Desember 1977. Penangkapan kedua terjadi pada tahun yang sama karena ceramah-ceramah di kampus. Bersama dengan Ismail Sunny, juga ditahan Mahbub Djunaidi dan Bung Tomo. Dalam penahanan inilah, Ismail berkenalan dengan ‘Imaduddin.

Selain ‘Imaduddin dan Ismail, masih banyak lagi para aktivis dakwah yang ditangkap oleh Pemerintah. Salah satunya adalah penangkapan yang dilakukan oleh Pemerintah pada peristiwa Tanjung Priok 1984, penangkapan terhadap gerakan usroh Abdullah Sungkar di Lampung tahun 1989, dan salah satu tokoh Masyumi, Muhammad Natsir.

BAB IV

KESIMPULAN

Dari penelitian ini, ditemukan bahwa walaupun Pemerintah Orde Baru melakukan penekanan terhadap pergerakan Islam, namun gerakan Islam tetap bertahan melawan sikap represif tersebut. Penangkapan-penangkapan para aktivis dakwah bukannya menjadikan mereka ketakutan, namun menambahkan semangat perjuangannya. Hal ini dibuktikan dengan semakin marak dan meluasnya gerakan Islam. jumlah para aktivis dakwah kampus pun semakin meningkat.

Ada beberapa faktor penyebab gerakan Islam masih bertahan dan semakin menguat hingga rezim Orde Baru runtuh. Pertama, para aktivis dakwah bergerak secara sembunyi-sembunyi. Setiap kegiatan, mereka lakukan jauh dari pusat kegiatan kampus dan pemerintahan. Selain itu, tempat dilakukan kegiatan selalu berpindah-pindah agar tidak mudah dilacak. Kedua, Pemerintah melakukan politik akomodasionis di akhir tahun 1980-an (Syamsudin, 2001). Ketiga, para aktivis dakwah kampus melakukan kegiatannya dengan alasan aktivitas kampus (Whayudha, 2009).

DAFTAR REFERENSI

Buku

Asshiddiqie, Jimly, dkk. (2002). Bang ‘Imad: Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya. Jakarta: Gema Insani Press.

Boland, B.J. (1992). Pergumulan Islam di Indonesia 1945-1970 (Saafroedin Bahar, Penerjemah). Jakarta: PT. Grafiti Pers.

Imdadun, Muhammad. (2003). Transmisi Gerakan Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia 1980-2002 (Studi Atas Gerakan Tarbiyah dan Hizbut Tahrir). Program Pascasarjana FISIP UI.

Mashad, Dhurorudin. (2008). Akar Konflik Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Rafika, Prima. (2009). Sikap Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) terhadap Penerbitan Buku Pendidikan Moral Pancasila (PMP) 1980-1982. FIB UI.

Rahmat, M. Imdadun. (2008). Ideologi Politik PKS (edisi ke-3). Yogyakarta: LKiS.

Syamsuddin, M.Din. (2001). Islam dan Politik Era Orde Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Syukur, Abdul. (2003). Gerakan Usroh di Indonesia: Peristiwa Lampug 1989. Yogyakarta: Ombak.

Tebba, Sudirman. (1993). Islam Orde Baru: Perubahan Politik dan Keagamaan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Whayudha Kusuma Wijaya. (2009). Perkembangan Nuansa Islam Universitas Indonesia (SALAM UI) sebagai Gerakan Dakwah Kampus 1998-2003. FIB UI.

Jurnal

Abdussomad. Islam dan Politik dalam Era Orde Baru: Format Baru Nasionalisme Islam dan Implikasi Politiknya dalam Kesadaran Kebangsaan dan Integrasi Nasional. Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, No.2, 1994 Tahun XXI.

Van Bruinessen, Martin. Sectarian Movements in Indonesian Islam: Social and Cultural Background. Ulumul Qur’an vo.III no. 1, (1992): 16-27.

Artikel

Alatas, Alwi. (2007). Penelitian Kasus Jilbab. Diunduh pada 21 Maret 2010 dari http://alwialatas.multiply.com/journal.

Chandra, Muhammad. (2009). Sejarah Jamaah Tabligh. Diunduh pada 16 Desember 2010 dari http://ustadchandra.wordpress.com.

Dja’far, Alamsyah M. (2009) Memahami Gerakan Islam Transnasional: Sebuah Pengantar. Diunduh pada 25 November 2010 dari http://pmii-ciputat.or.id.

Ikhsan, Muhammad. (2006). Gerakan Salafi Modern di Indonesia: Sebuah Upaya Membedah Akar Pertumbuhan dan Ide-ide Substansialnya. Diunduh pada 25 November 2010 dari www.wahdah.or.id.

BIN. (n.d.). Gerakan Islam Transnasional dan Pengaruhnya di Indonesia. Diunduh pada 20 November 2010 dari www.unhas.ac.id.


[1] As-salaf ash-shalih merupakan tiga generasi pertama sahabat Nabi Muhammad SAW.

[2] Penulis menyimpulkan demikian karena sumber-sumber mengenai gerakan ini terbatas, walaupun pada tahun 1980-an banyak mahasiswa yang tertarik dengan Ikhwanul Muslimin. Sebagian besar buku-buku bertema Islam pada masa Orde Baru bahkan tidak menyinggung mengenai gerakan ini dan cenderung memaparkan mengenai munculnya para cendekiawan muslim dan keadaan ormas-ormas Islam yang sudah mapan di Indonesia.

Liburan 3 Bulan, apa yang akan saya lakukan?

Juni-Juli-Agustus. begitulah liburan di UI. kalau di fakultas dan jurusan lain, dibuka semester pendek. namun jika peminatnya kurang dari 15 orang, maka kuliah tidak dibuka. jadi saya tidak mungkin mengikuti semester pendek, karena telah turun-temurun di jurusan Ilmu Sejarah tidak ada peminat semester pendek. alasan pertama, mahal. yap, 1 sks Rp 350.ooo,- itu artinya jika mengambil mata kuliah bersks 3 maka jumlah keseluruhan Rp 1.050.ooo,-. kasihan orangtuaku, daripada untuk SP lebih baik untuk memborong buku di TM Bookstore dan Gramedia atau berkeliling pulau Jawa atau pergi ke kampung Inggris!!  :).

sayangnya, saya tidak akan melakukan semua itu (pergi ke kampung Inggris masih menjadi pertimbangan, saya tidak ingin berpisah dengan laptop 17″-ku…:D).

jadi apa yang akan saya lakukan selama 3 bulan itu? bolehkah saya berkunjung ke perpustakaan pribadimu? 😉

membuat rencana penelitian mungkin. meneliti lagu-lagu kebangsaan negara-negara di Asia Tenggara sepertinya menarik (usulan seorang teman) karena lagu kebangsaan akan berhubungan dengan bagaiamana sejarahnya. jujur saja, hingga saat ini saya masih beranggapan bahwa lagu kebangsaan Indonesia Raya lebih patriotik dibandingkan dengan negara lainnya (well, Aniek, don’t start :D).

membuat novel perdana yang sesuai ilmu dan idealisme? boleh juga. sejak dulu saya ingin sekali membuat novel, namun saya memiliki hambatan dengan kebosanan :D.

Berkunjung ke rumah teman-teman? hitung-hitung silahturrahim.

Menjelajah Cirebon hingga pelosok? hmmmm…

Menghabiskan semua buku di perpustakaan FIB? waw wa mungkin hanya bagian novel saja hoho.

dan liburan sekarang dimulai dengan rapat redaksi Koran Kampus. pamit dahulu. Tanggal 5 Juni ada 2 agenda yang keduanya sangat penting: 1. sertijab FLP Ciputat; 2. pernikahan murobiyah pertamaku (waktu 1 mts). Hak seorang muslim itu salah satunya jika diundang maka ia datang. hm…mari kita pikirkan kembali 🙂

H.O.S. Tjokroaminoto: Pemikiran Masa “Tjokro Muda” dan “Tjokro Tua”

Riwayat Hidup Singkat

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto adalah tokoh penting pada Masa Pergerakan Nasional dan Islam Modern di Indonesia. Lahir di daerah bernama Bakur, Madiun, Jawa Timur pada tahun 1882. Dalam aliran darahnya mengalir deras darah bangsawan yang taat beragama. Tjokroaminoto adalah salah satu alumni Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang, lulus pada tahun 1902. Setelah lulus dari OSVIA, beliau bekerja menjadi juru tulis di Kesatuan Pegawai Administratif Bumiputera di Ngawi. Di Surabaya pada tahun 1905, Tjokroaminoto bekerja pada sebuah perusahaan dagang sambil mengikuti kursus teknisi di sebuah sekolah malam. Setelah lulus, Tjokroaminoto bekerja di pabrik gula Rogojampi pada tahun 1907. Pada masa awal bekerja, beliau magang sebagai masinis, kemudian menjadi teknisi, kemudiam ia ikut dalam kepengurusan SI pada tahun 1912. Tidak lama kemudian, Tjokroaminoto dipercaya menjadi pemimpin SI cabang Surabaya.

Prestasi perdana Tjokroaminoto adalah ketika ia sukses menyelenggarakan vergadering SI pertama pada 13 Januari 1913 di Surabaya. Rapat besar itu dihadiri 15 cabang SI, tiga belas di antaranya mewakili 80.000 orang anggota. Kongres resmi perdana SI sendiri baru terlaksana pada 25 Maret 1913 di Surakarta di mana Tjokroaminoto terpilih menjadi wakil ketua CSI mendampingi Hadji Samanhoedi. Dalam posisi wakil ketua inilah Tjokro mulai menanamkan pengaruhnya.[1]

Tjokroaminoto adalah seorang tokoh yang pawai berpidato, bahkan ada yang mengatakan bahwa Soekarno hanyalah 1/3 dari Tjokroaminoto. Hal ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya anggota SI yang menjadikan SI sebagai organisasi besar pada masanya. Dalam tulisan Humaidi, seorang peserta program Pasca Sarjana Departemen Ilmu Sejarah FIB UI, yang berjudul H.O.S. Tjokroaminoto: Potret Pemikiran Nasionalisme dan Agama di Indonesia menyatakan bahwa ia membagi kehidupan tokoh ini dalam dua masa yaitu “Tjokro Muda” dan “Tjokro Tua” berdasarkan pandangan tokoh ini terhadap nasionalisme dan Islam. Pembagian ini akan dibahas di bagian selanjutnya.

Selain sebagai tokoh pergerakan, Tjokroaminoto dikenal sebagai “Guru Politik” bagi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Soekarno, Musso-Alimin, dan Kartosuwirjo. Bahkan ada yang mengatakan bahwa konflik ideologi pada tahun ’60-an adalah peperangan antara murid-murid Tjokroaminoto.[2] Hal ini dikarenakan Musso-Alimin yang notabene sebagai tokoh PKI melakukan pemberontakan pada pemerintahan Soekarno, dan begitu pula dengan Kartosuwirjo, seorang tokoh Darul Islam.

Tjokroaminoto juga seorang jurnalis. Ia pernah memimpin surat kabar “Oetoesan Hindia” yang merupakan organ internal SI sekaligus sebagai pemilik usaha percetakan Setia Oesaha di Surabaya. Juga pernah terlibat dalam Bendera Islam bersama Agus Salim, Soekarno, Mr Sartono, Sjahbudin Latief, Mohammad Roem, AM Sangadji, serta aktivis Islam dan Nasionalis lainnya. Fadjar Asia pun terbit sebagai suratkabar pembela rakyat berkat kerja kerasnya bersama Agus Salim dan Kartosoewirjo. Tjokroaminoto pun piawai menulis buku, di antaranya adalah dua buku yang diberi judul
Tarich Agama Islam serta  Islam dan Sosialisme.
[3]

Pemikiran Tjokroaminoto

Dalam beberapa tulisan, terutama tulisan Humaidi mengenai pemikiran Tjokroaminoto, maka ada dua perbedaan antara pemikiran Tjokroaminoto pada masa sebelum dan sesudah berumur 40 tahun, atau lebih tepatnya ketika ia keluar dari penjara kolonial. Humaidi sendiri membagi masa ini menjadi masa “Tjokro Muda” dan “Tjokro Tua”. Digambarkan bahwa “Tjokro Muda” adalah Tjokro yang bersemangat, dan melihat Islam sebagai alat untuk memperjuangkan nasionalisme, memperjuangkan persatuan nasional.[4] Sementara “Tjokro Tua” adalah Tjokro yang mulai berpikir secara dikotomis yaitu membedakan Islam dan komunisme sebagai bagian terpisah dalam menafsirkan nasionalisme.[5]

“Tjokro Muda” memiliki kecenderungan menjadikan Islam sebagai tali pemersatu di organisasi SI dan untuk mengangkat derajat kaum bumiputera secara sah. Untuk mengejar ketertinggalan kaum bumi putera, Tjokro juga tidak lupa menuturkan cerita Subali dan Sugriwa yang mencari Cupu Manik Astragino. Dalam cerita tersebut, digambarkan mengenai Subali dan Sugriwa yang siap mati untuk mendapatkan senjata itu. Tentu, penceritaan ini adalah sebuah ajakan simbolik, dengan menggunakan pendekatan “world view” masyarakat Jawa. Cupu diartikan sebagai adalah lambang kemajuan, sedang Subali dan Sugriwa adalah merujuk kepada kaum bumi putera yang sedang mengejar kemajuan, yang bersedia mengorbankan diri demi sebuah cita-cita. Arti penting dari pemaparan ini menunjukkan beberapa hal. Pertama, kadar pemahaman Tjokro mengenai Islam tidaklah mendalam, cenderung biasa-biasa saja. Ia menjadikan Islam hanya sebatas klaim legitimasi, tetapi ia lupa mendasarkan klaimnya dari kitab apa, ayat apa. Kedua, terlihat watak sinkretis dalam pemahaman ke-Islaman Tjokro. Pada satu sisi ia mengambil pembenaran secara agama, tetapi pada sisi lain ia juga menyandarkan pada cerita wayang yang notabenenya bekas peninggalan budaya hinduisme-jawa yang membekas pada pemahaman golongan Islam abangan.[6]

Kemudian pada perkembangannya,  pemikiran Tjokro tidak banyak berubah. Karena ketika berpidato mengenai Islam yang kebanyakan ditujukan untuk simbol persatuan nasional. Namun perubahan dalam diri Tjokro, yang membuatnya lebih memikirkan Islam, yaitu pada tahun 1922. Ada dua hal yang kiranya dinilai penting atau bahkan memicu terjadinya perubahan dalam diri Tjokro. Pertama, sejak Agustus 1921 hingga April 1922, Tjokro berada dalam penjara. Keadaan ini, tentu saja dilihat Tjokro sebagai suatu proses simbolik untuk melakukan refleksi. Sangat mungkin juga, ada pemaknaan lain bahwa umur 40 tahun dalam penjara, adalah daulat akan keberadaannya sebagai pemimpin pergerakan, sama dengan umur Nabi Muhammad ketika diangkat menjadi utusan Allah. Kedua, Setelah keluar dari penjara, ia berusaha untuk kembali ke CSI (Central Sarekat Islam) dan menarik pengikut dari kaum buruh. Usahanya ini gagal. Tentunya, hal ini semakin menguatkan perspektif Tjokro bahwa untuk membangun nasionalisme dalam arti yang luas, tidak dapat dibangun dari sesuatu yang general. Nasionalisme harus dibangun atas dasar kesamaan, dan untuk itu diperlukan unsur pembeda guna membersihkannya dari unsur lain. Tjokro percaya hal itu adalah Islam.[7]

Pemahaman “baru” Tjokro mengenai Islam, secara substansial tampak dalam brosur “Sosialisme Di Dalam Islam”. Brosur ini, selain sebagai hasil kerja pikiran Tjokro, juga sebuah pembentukan opini dan upaya untuk menarik mereka yang sudah teracuni komunis untuk kembali kepada SI. Brosur tersebut berisikan beberapa hal pokok, yaitu perikemanusiaan sebagai dasar bangunan Islam, perdamaian, sosialisme dan persaudaraan. Islam sama dengan sosialisme karena tiga hal, yaitu unsur kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan. Dari segi isi, kelihatannya Tjokroaminoto sudah ingin memberi batasan antara Sosialisme Islam dan komunisme. Karena sosialisme Islam, menyandarkan kekuatannya kepada Allah.[8]

Pada tahun 1922-1924, Tjokro aktif menjadi pemimpin dari Kongres Al-Islam yang disponsori oleh kaum modernis. Hal ini sebagai pembuktian mengenai kecenderungan pemahamannya tentang Islam sebagai sebuah ideologi. Selain itu, Tjokro juga bersemangat menanggapi isu kekhalifahan yang dikemukakan oleh Ibnu saud. Hal ini memperjelas bahwa pemikiran Tjokro telah dipengaruhi oleh ide-ide Pan-Islamisme. Pada akhirnya kecenderungan pan-Islamis semakin menguat dalam pemikiran Tjokro. Ketika muncul federasi PPPKI, PSI yang diketuai Tjokro sangat ingin muncul sebagai kekuatan yang menguasainya. Tjokro juga semakin keras berpidato mengenai dikotomi nasionalisme Islam dan sekuler. Kaum beragama, harus memilih organisasi yang didasarkan agama, tutur Tjokro. Arti dari gerakan Pan-Islamis Tjokro ini menyiratkan bahwa setidaknya yang dibayangkan Tjokro adalah sebuah nasionalisme, sebuah kebangsaan yang didasarkan semangat persatuan nasib. Islam maupun sekuler, dalam dikotomi ini, di akui sebagai unsur yang sedang berjuang demi nasionalisme.


[1] Jemaridewa, Bapak Politik Umat Nusantara, http://tjokroaminoto.wordpress.com/2008/03/21/bapak-politik-umat-nusantara/. Diunduh pada hari Senin, 24 Mei 2010 pukul 10.14.

[2] Humaidi, H.O.S. Tjokroaminoto: Potret Pemikiran Nasionalisme dan Agama di Indonesia, http://tjokroaminoto.wordpress.com/2008/03/21/hos-tjokroaminoto-potret-pemikiran-nasionalisme-dan-agama-di-indonesia-1/. Diunduh pada Minggu, 23 Mei 2010 pukul 15.20.

[3] Jemaridewa, Bapak Politik Umat Nusantara, http://tjokroaminoto.wordpress.com/2008/03/21/bapak-politik-umat-nusantara/. Diunduh pada hari Senin, 24 Mei 2010 pukul 10.14.

[4] Humaidi, H.O.S. Tjokroaminoto: Potret Pemikiran Nasionalisme dan Agama di Indonesia, http://tjokroaminoto.wordpress.com/2008/03/21/hos-tjokroaminoto-potret-pemikiran-nasionalisme-dan-agama-di-indonesia-1/. Diunduh pada Minggu, 23 Mei 2010 pukul 15.20.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] HOS Tjokroaminoto, Sosialisme di dalam Islam, dikutip dari Islam, Sosialisme dan Komunisme editor: Herdi Sahrasad, (Jakarta: Madani Press, 2000), hal. 1-20 dalam Humaidi, H.O.S. Tjokroaminoto: Potret Pemikiran Nasionalisme dan Agama di Indonesia, http://tjokroaminoto.wordpress.com/2008/03/21/hos-tjokroaminoto-potret-pemikiran-nasionalisme-dan-agama-di-indonesia-1/. Diunduh pada Minggu, 23 Mei 2010 pukul 15.20.

Review Film Cin(T)a dan Sebuah Kritik

Cin(T)a, sebuah film tentang cinta dan agama. Berkisah mengenai Cina, seorang mahasiswa baru keturunan etnis Cina, bersuku Batak, dan beragama Kristen, dan Annisa, seorang mahasiswa tingkat akhir, seorang artis yang sudah lama tidak muncul di layar kaca, keluarga berantakan, berkeinginan menjadi seorang sutradara, bersuku Jawa, dan beragama Islam. Persahabatan mereka berawal dari Cina yang tidak sengaja merusak maket Annisa dan memperbaikinya secara diam-diam. Cina yang blak-blakan membuat Annisa tertarik, karena selama hidupnya tidak ada yang pernah mencelanya seperti yang Cina lakukan. Mereka bersahabat tanpa memikirkan latar agama mereka, hal ini dapat dilihat ketika mereka berada di dekat sebuah masjid yang sedang diadakan pengajian dan dilantunkan Al-Qur’an Al-Baqarah: 62. Selain itu, toleransi mereka diperlihatkan pula ketika Idul Fitri dan Natal menjelang bersamaan. Puncak film ini yaitu ketika tragedi pengeboman gereja-gereja di berbagai negeri pada malam Natal.

Secara objektif, saya memandang film ini bagus. Teringat seorang dosen yang berkata bahwa film yang baik adalah film yang berbicara, bukan berbicara melalui kata-kata tetapi simbol-simbol yang membuat penontonnya berpikir. Pernyataan-pernyataan filosofis yang terkadang membuat saya mengatakan: “Benar juga, tapi…” ketika dua tokoh utama ini mendiskusikan mengenai Tuhan dan agama. Ya, mengapa dunia ini tidak diciptakan berdasarkan cinta? Mengapa Tuhan menciptakan berbeda-beda agama jika Ia hanya ingin disembah oleh satu agama? Berbeda-beda agama, berbeda-beda “nama” Tuhan, mengapa harus terjadi?

Film ini pula menampilkan beberapa pasangan yang telah hidup bahagia dengan pernikahan mereka bersama pasangan berbeda agama. Mereka mempertanyakan, yang saya tafsirkan, mengapa harus ada agama jika cinta sudah cukup membawa kedamaian di muka bumi? Sebenarnya apa guna dari agama?

Secara subjektif, film ini dangkal. Tetapi wajar, karena perspektif orang berbeda-beda berdasarkan kepercayaannya. Jelas sekali, menurut pandangan saya, bahwa pembuat film ini menuhankan cinta, atau menurut pandangan saya, nafsu. Ada tiga poin kritikan saya terhadap film ini.

Pertama, mengenai cukilan surat Al-Baqarah ayat 62.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in[1], siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 62 tersebut selalu menjadi alasan orang-orang kafir dan fasiq untuk membenarkan pendapat mereka, tanpa melihat kelanjutan dari ayat tersebut. Memang Allah berfirman demikian, namun apakah orang-orang Yahudi dan Nasrani itu beriman kepada Allah? Di ayat-ayat selanjutnya dikatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani ini telah “lupa” dengan janji mereka pada Allah.

Orang-orang Yahudi melakukan pelanggaran terhadap Allah dengan merendahkan hari Sabat dan tidak melaksanakan perintah Allah (Al-Baqarah: 65-71). Mereka menulis kitab dengan tangan sendiri dan mengatakan bahwa itu dari Allah kemudian menjualnya (Al-Baqarah: 79), Bani Israil pun melupakan janjinya kepada Allah yaitu untuk tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada orang lain, bertutur kata baik, melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Mereka pun lupa akan janji mereka bahwa mereka tidak akan saling menumpahkan darah sesama mereka dan mengusir saudaranya dari kampung halamannya (Al-Baqarah: 83-85). Mereka tidak mengindahkan perintah Allah yang disampaikan nabi-nabi mereka dan mereka malah mendustakan sebagian nabi mereka dan sebagian lainnya mereka bunuh, seperti yang mereka lakukan kepada Isa Putra Maryam (Al-Baqarah: 87). Mereka mengatakan bahwa hati mereka tertutup padahal itulah laknat Allah karena keinginan mereka sendiri (Al-BAqarah: 88). Dan ketika Kitab Allah (Al-Qur’an) turun, mereka mendustakannya (Al-Baqarah: 89) serta ketika datang Rasul Muhammad, mereka melemparkan Kitab (Taurat) seakan-akan mereka tidak tahu.

Jadi apakah Al-Baqarah: 62 masih berlaku setelah penjelasan ayat-ayat selanjutnya?

Salah jika kita hanya memegang hanya satu ayat dari Al-Qur’an tanpa melihat ayat-ayat selanjutnya. Al-Qur’an diturunkan tidak terdiri dari satuan-satuan yang terpisah, melainkan Al-Qur’an tersusun bersambung-sambung hingga kita menemukan puzzle yang diinginkan oleh Allah. Hanya manusia yang dipenuhi nafsu saja yang mencuil ayat-ayat dan menafsirkannya sesuai dengan kehendak mereka tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku.

Lalu mengapa Allah menciptakan banyak agama jika Ia hanya ingin disembah oleh satu agama dan tidak memperbolehkan pernikahan lintas agama?

Allah tidak menciptakan banyak agama karena hanya mengajarkan tauhid bagi manusia. Yahudi, Nasrani, dan Islam seharusnya memiliki akar ajaran yang sama yaitu tauhid. Injil menyempurnakan Taurat, dan Al-Qur’an menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Mengapa menjadi begitu banyak agama? Karena orang-orang Yahudi dan Nasrani begitu sombongnya hingga tidak mengakui Muhammad, Rasul Allah, yang membawa ajaran Islam sebagai penyempurna datang dari Arab yang mereka anggap sebagai orang-orang bodoh. Bani Israil terlalu sombong.

Poin kedua yaitu mengenai agama dan cinta. Dulu, Rasulullah memperbolehkan umatnya untuk menikah dengan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, yang memegang teguh tauhid. Tapi zaman sekarang mana ada Ahli Kitab, lha wong kitabnya saja sudah direvisi berkali-kali sesuai keinginan pemuka-pemuka agama mereka.

Bukan cinta, melainkan nafsu. Apakah ada cinta pada manusia semata tanpa ingin menyentuh manusia yang kita cintai? Jika ya, saya berikan standing aplause karena hal demikian merupakan keajaiban terhebat. Mahabbah atau cinta ada tiga tingkatan, yaitu 1) cinta hanya semata-mata pada Allah, ini adalah tingkatan cinta tertinggi; 2) cinta pada makhluk-Nya tanpa menafikan cinta pada Allah, ini adalah cinta yang baik; dan 3) cinta hanya pada dunia dan makhluk-Nya, ini adalah seburuk-buruknya cinta. Cinta yang hakiki hanyalah cinta kepada Allah, dan sebaik-baiknya hamba ialah mereka yang mencintai dan membenci hanya karena Allah saja.

Cintailah Allah. Jika cinta pada Allah telah tertanam kuat di hati maka untuk apa pernikahan lintas agama terjadi? Karena jika mereka, umat muslim, ber-Islam dengan baik, mereka tidak akan melakukan pernikahan lintas agama. Cinta mereka pada Allah lebih kuat dibandingkan cinta mereka pada makhluk-Nya. Dan saya mengutuk keras konsep nation state yang dianut sebagian besar umat manusia saat ini. Suku bangsa bukanlah ikatan yang paling kuat di dunia ini! Lihat saja bagaimana akhirnya terjadi permusuhan antara Indonesia dan Malaysia yang notabene sebagian besar penduduknya adalah muslim.

Ketiga, mengenai perang antar-agama yang terjadi di akhir tahun ’90-an hingga kini. Sebuah obrolan menarik dari beberapa orang yang sedang mendiskusikan tentang pengeboman gereja-gereja di berbagai daerah di Indonesia (sepertinya pembuat film ingin mengejek muslim, khususnya aktivis dakwah). Mereka mengatakan bahwa hal itu tidak seberapa dibandingkan dengan umat muslim yang mati terbunuh di Palestina serta pernytaan mengenai pengeboman itu mungkin saja karena konspirasi yang didalangi (lagi-lagi kita menyalahkan) Amerika. Saya katakan “OH-MY-GOOD” untuk pembuat film ini karena ia sungguh tidak memiliki rasa kemanusiaan dan SANGAT BERAT SEBELAH. Hei, man, jika kau hanya melihat pengeboman gereja-gereja itu, apakah kau tidak melihat bagaimana umat Islam ditekan habis-habisan ketika rezim Orde Baru berkuasa? Ini dia kebodohan orang-orang Indonesia, LUPA akan sejarahnya sendiri. Tulisan ini bukan berarti saya membela para pelaku pengeboman itu. Salah, tentu saja. Dan SALAH pula jika kita mendiskreditkan penganut Islam-lah yang melakukan ini semua. Pemerintah (jika diperbolehkan berkata kasar) yang dungu, mencari kambinghitam sana-sini namun yang dicari adalah aktivis Islam. Masa mau kembali ke zaman Orde Baru yang mengincar para aktivis dakwah yang sedang melakukan kajian ke-Islam-an. Penakut benar Pemerintah, pengecut.

Bagaimana jika saya katakan bahwa wajar saja terjadi pengeboman gereja-gereja tersebut karena Kristen adalah agama minoritas di Indonesia? Karena ketika Islam menjadi agama minoritas seperti muslim Sulu di Filipina, Rohingya di Myanmar, Pattani di Thailand, Chechnya di Rusia, dan di berbagai belahan dunia manapun, ditindas bahkan diperlakukan lebih kejam lagi. Jangan lupakan, kawan, mengenai genosida yang dilakukan pada warga Bosnia Herzegovina di awal tahun ’90-an!

Egois memang jika memandang semua masalah dengan sangat subjektif. Tetapi saya adalah manusia, dan manusia memiliki kepercayaannya masing-masing yang membuat seluruh pemikiran, jalan hidup, perkataan, dan segala aspek kehidupannya berdasarkan ideologinya.

Wallahu’alam bishawab.

Al-Faqir,

Aniek Nurfitriani.

Depok, Ahad, 9 April 2010


[1] Sabi’in ialah umat sebelum Nabi Muhammad SAW yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa, dan memercayai adanya pengaruh bintang-bintang.

Aku Rindu Hutan

Aku merindukan hutan

Dengan rumpun jamur dan kurcaci

Para peri hutan menari di tengah terang bulan

Menghilangkan nyeri

Aku merindukan gemerisik pepohonan

Keluarga kelinci berkejaran

Sesekali menyapaku ramah

Seperti di rumah

Menulis untuk Mencapai Keabadian

…sebuah quote yg menggugah jiwa dari seorang sastrawan dan kritikus sastra FLP-C, Asep Sofyan.
coba kita kembali ke 20 abad yg lalu, ketika epos Mahabharata dikarang. coba kita kembali ke masa di mana Islam pada puncak kejayaannya, ketika para salafus shalih hidup. Rumi, Gibran, Chairil Anwar, ST Alisjahbana, Pramoedya, JK Rowling, JR Tolkien, Sir Arthur Conan Doyle, Lucy Montgomery, Ibnu Batutah, dan masih ratusan bahkan miliaran nama yang telah melegenda di hati-hati pembacanya. dan suatu hari, aku akan berada dalam daftar tersebut, karyaku menjadi legenda dan membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
jika dipikir, sombong benar diriku ini. bukan, bukan sombong. tetapi berusaha untuk meraih mimpi dengan target setinggi-tingginya agar jika jatuh, tidak akan jatuh terlalu rendah. 🙂
ini mimpiku, apa mimpimu?
ayolah, jangan biarkan semua pemikiran cerdasmu mengendap di otak dan akhirnya terlupakan. seseorang dilihat kadar kepintarannya dari bagaimana ia menuangkan tulisan dan gaya menulisnya.

aniek 😉